Senin, 28 Mei 2012
Bank Dunia: risiko banjir daerah urban meningkat
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta (ANTARA News) - Bank Dunia menyatakan bahwa terdapat beragam risiko yang serius terhadap gejala peningkatan fenomena banjir yang terdapat di daerah urban atau perkotaan di kawasan Asia Timur dan Pasifik.

 

"Ekspansi urban kerap menciptakan lingkungan yang lebih miskin di mana terjadi kekurangan infrastruktur dan pelayanan yang memadai, yang mengakibatkan hal tersebut semakin rentan kepada banjir," kata Wakil Presiden Bank Dunia untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik, Pamela Cox, dalam keterangan tertulis yang diterima, di Jakarta, Selasa.

 

Menurut Pamela Cox, peningkatan risiko akibat meningkatnya kerentanan terhadap banjir di kawasan urban itu akan berdampak terutama kepada masyarakat miskin, khususnya perempuan dan anak-anak.

 

Namun, lanjutnya, proses urbanisasi yang cepat juga bermakna bahwa terdapat kesempatan untuk melakukan hal yang cepat dan tepat sehingga daerah perkotaan dapat mendukung pembangunan yang berkelanjutan yang dapat baik menyelamatkan jiwa maupun menghemat uang.

 

Bank Dunia sendiri sejak 13 Februari telah mengeluarkan buku panduan bertitel "Cities and Flooding: A Guide to Integrated Urban Flood Risk Management for the 21st Century," yang menyediakan panduan operasional tentang bagaimana mengelola risiko banjir dalam menghadapi urbanisasi, meningkatnya populasi, dan perubahan iklim.

 

Berdasarkan data Bank Dunia, dalam jangka waktu 30 tahun terakhir, jumlah banjir di Asia mencakup 40 persen dari seluruh banjir di dunia, dan terdapat 90 persen lebih dari populasi global yang terdampak akibat banjir di Asia.

 

Lembaga keuangan multilateral itu menyebutkan, sebagaimana banyak negara berkembang yang melalui fase transisi menuju masyarakat yang sebagian bersar urban, konsentrasi penduduk dan aset juga mengakibatkan banjir urban sangat mahal dan sukar untuk dikelola.

 

Selain itu, banjir juga memiliki akibat jangka panjang seperti hilangnya kesempatan pendidikan, merebaknya wabah penyakit, dan mengurangi tingkat nutrisi warga.

 

Berdasarkan buku panduan dari Bank Dunia, cara paling efektif dalam mengelola risiko banjir adalah dengan mengambil pendekatan terintegrasi yang menggabungkan baik aspek struktural maupun nonstruktural, antara lain membangun saluran drainase dan kanal banjir, menerapkan "urban greening", menciptakan sistem peringatan dini banjir, dan perencanaan penggunaan lahan perkotaan untuk menghindarkan banjir.

 

Buku panduan tersebut dihasilkan dengan dukungan finansial dari Global Facility for Disaster Reduction and Recovery (GFDRR) dengan mitra yang mencakup Japan International Cooperation Agency (JICA).