Senin, 28 Mei 2012
Dinkes Kediri Intensifkan Temuan Penderita HIV/AIDS
Rabu, 23 Februari 2011 03:34
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 23/2 (SIGAP) - Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, Jawa Timur, mengintensifkan petugasnya untuk menemukan penderita HIV/AIDS dengan harapan mampu meningkatkan angka harapan hidup.

Demikian dikatakan Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Menular Langsung Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri Nur Munawaroh di Kediri, Rabu (23/2). Dikatakan Nur Munawaroh, pihaknya aktif melibatkan instansi terkait seperti dari sektor pariwisata, tenaga kerja, hingga melibatkan tokoh masyarakat, maupun organisasi masyarakat untuk pencegahan penularan penyakit itu.

Dirinya mengatakan, selalu melakukan motivasi dan sosialisasi kasus HIV/AIDS di semua lapisan masyarakat, baik kelompok risiko tinggi maupun rendah. Peran serta dari petugas baik di jajaran kesehatan maupun instasi lainnya sangat diperlukan.

Menurutnya, mereka adalah kelompok yang paling dekat dengan masyarakat umum, hingga bisa melakukan pendekatan, mencegah penularan, disamping ada organisasi khusus yang menangani HIV/AIDS seperti Komisi Penanggulangan AIDS (KPA).

Seperti diketahui, jumlah penderita HIV/AIDS hingga kini di Kabupaten Kediri selalu bertambah, mencapai 220 penderita hingga akhir Januari 2011. Jumlah itu diperkirakan akan terus bertambah, mengingat penyakit itu seperti fenomena gunung es, yang terlihat hanya bagian atas saja.

Nur mengungkapkan, setiap bulan ada sekitar 3-6 penderita ditemukan dari berbagai kelompok risiko tinggi seperti pekerja seks komersial, gay, waria, hingga pelanggan (pria hidung belang).

"Untuk Januari lalu, ditemukan ada tiga pasien baru, seorang di antaranya tenaga kerja Indonesia dengan jenis laki - laki, dan dua lainnya seorang PSK," ucap Nur, mengungkapkan.

Dirinya menyebut, saat ini para pasien yang terkena HIV/AIDS sudah lebih terbuka dengan mau memeriksakan diri ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pelem, Pare. Kesehatan mereka akan dipantau langsung manager kasus.

Dinkes juga mencatat, rata - rata pasien yang tertular penyakit yang menggerogoti kekebalan tubuh ini masih usia produktif antara 15-54 persen. Secara persentase jumlahnya hingga 94 persen.

Sementara itu, untuk penularan lebih didominasi hubungan seksual yang sering ganti pasangan hingga 91 persen, 3 persen penularan dari ibu ke anak, 2 persen karena narkotik dan obat - obatan terlarang.

Pihaknya meminta, kepada semua masyarakat untuk berperan aktif mencegah penularan penyakit yang hingga kini belum ada obatnya tersebut.

Selama ini, para pasien hanya mengadalkan Antiretroviral yang hanya mampu menghambat saja. Keterlibatan mereka bisa meningkatkan angka harapan hidup terutama bagi pasien penderita HIV/AIDS.

Komisi Penanggulangan AIDS seperti dikutip dari aidsindonesia.or.id menyebutkan, sebagian besar orang yang terkena HIV, bila tidak mendapat pengobatan, akan menunjukkan tanda-tanda AIDS dalam waktu 8-10 tahun. AIDS diidentifikasi berdasarkan beberapa infeksi tertentu, yang dikelompokkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) sebagai berikut, Tahap I, penyakit HIV tidak menunjukkan gejala apapun dan tidak dikategorikan sebagai AIDS.

Tahap II, meliputi manifestasi mucocutaneous minor dan infeksi-infeksi saluran pernafasan bagian atas yang tak sembuh- sembuh. Tahap III, meliputi diare kronis yang tidak jelas penyebabnya yang berlangsung lebih dari satu bulan, infeksi bakteri yang parah, dan TBC paru-paru, atau Tahap IV, meliputi Toksoplasmosis pada otak, Kandidiasis pada saluran tenggorokan (oesophagus), saluran pernafasan (trachea), batang saluran paru-paru (bronchi) atau paru-paru dan Sarkoma Kaposi.

Komisi Penanggulangan AIDS mencatat, lamanya HIV bisa berkembang menjadi AIDS dapat bervariasi dari satu individu dengan individu yang lain. Dengan gaya hidup sehat, jarak waktu antara infeksi HIV dan menjadi sakit karena AIDS dapat berkisar antara 10-15 tahun, kadang-kadang bahkan lebih lama. Terapi antiretroviral dapat memperlambat perkembangan AIDS dengan menurunkan jumlah virus (viral load) dalam tubuh yang terinfeksi. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita