Senin, 28 Mei 2012
DKP: "Shelter" Korban Merapi Dilengkapi Kolam Lele
Senin, 21 Februari 2011 04:43
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 21/2 (SIGAP) - Kepala Bidang Bina Usaha Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sudiyanto, Senin (21/2) mengatakan, seluruh "shelter" atau hunian sementara korban bencana erupsi Gunung Merapi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dilengkapi dengan kolam budi daya ikan lele untuk pemberdayaan ekonomi selama pengungsi tinggal di tempat tersebut.

Sudiyanto menjelaskan, korban Merapi saat ini umumnya kehilangan mata pencahariannya, sehingga untuk pemberdayaan ekonomi, pihaknya memberi modal berupa kolam, bibit lele dan pakan serta memberi pelatihan budi daya ikan bagi warga pengungsi.

Menurutnya, pada tahap awal telah dibangun sebanyak 50 kolam lele berukuran 4 meter X 6 meter di beberapa lokasi "shelter".

"Masing-masing kolam berisi 2.400 bibit ikan lele untuk dibudidayakan secara berkelompok oleh warga penghuni `shelter`. Mereka juga diberi modal lima sak pakan, setiap sak berisi 30 kilogram," katanya.

Dirinya mengatakan, rencananya ke depan setiap kepala keluarga (KK) diberi satu kolam lele, sehingga jika semua "shelter" sudah jadi, maka jumlah kolam total 2.640.

"Selain modal berupa kolam, bibit lele dan pakan, kami juga memberi pelatihan bagaimana memelihara lele serta pemasarannya, dan pelatihan mengolah lele menjadi dendeng, krispi serta abon," katanya.

Sudiyanto mengatakan, kolam lele yang terbuat dari terpal plastik itu akan dibuat di setiap "shelter" di beberapa lokasi, yakni di Dusun Plosokerep Desa Umbuharjo, Dongkelsari Desa Wukirsari, Kuwang Desa Argomulyo, Banjarsari Desa Glagaharjo, Gondang Desa Kepuharjo, semuanya di Kecamatan Cangkringan, serta Dusun Ketingan Desa Sindumartani di Kecamatan Ngemplak.

"Pemberian modal berupa kolam dan bibit lele serta pakan ini merupakan instruksi Gubernur DIY untuk mempercepat pemulihan ekonomi warga yang terkena dampak erupsi Merapi 2010, karena kegiatan perekonomian warga di lereng gunung itu macet toal akibat bencana tersebut," katanya.

Lebih lanjut Sudiyanto mengatakan, budi daya ikan lele ini memerlukan waktu sekitar 40 hari untuk bisa panen. "Jika satu kilogram lele di pasaran harganya Rp11 ribu, maka setiap panen warga bisa memperoleh pendapatan dari budi daya lele itu," katanya.

Menurut Sudiyanto, biasanya setiap satu kilogram berisi antara tujuh hingga delapan ekor ikan lele, sehingga tinggal dihitung berapa penghasilan warga dari budi daya ikan tersebut. "Diharapkan ini bisa menjadi pendapatan rutin setiap bulan," katanya. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita