Senin, 28 Mei 2012
Bandung: Petani "Derep" Jual Bawon Untuk Raskin
Kamis, 17 Februari 2011 00:35
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 17/2 (SIGAP) - Para petani "derep" atau tukang panen padi lebih memilih menjual gabah bawon atau prosentase panen untuk membeli beras untuk keluarga miskin (raskin).

"Sehari kami bisa menghasilkan dua hingga tiga kilogram beras hasil bawon, saya jual dan belikan dengan raskin kalau sudah tiba jatahnya," kata Una (58), petani derep di Ciparay Kabupaten Bandung bagian selatan, Kamis (17/2).

Una merupakan salah satu dari sekian banyak wanita petani derep di selatan Bandung itu. Mereka rata-rata wanita yang sudah berusia setengah baya dan menekuni sebagai derep sejak lama.

"Bawon dari pemilik sawah memang dalam bentuk padi, kemudian dikeringkan dan berasnya dijual. Sebagian dikonsumsi sebagian lagi untuk beli raskin," katanya.

Una menjual beras bawonnya itu Rp4.500 hingga Rp5.000 per kilogram, kemudian mereka belikan raskin Rp1.600 per liter. Dengan demikian satu kilogram beras bawon mereka bisa belikan untuk tiga liter raskin.

Meski demikian, mereka tidak bisa menukarkan semua hasil derepnya dengan raskin karena harus berbagi dengan warga lainnya yang juga berebut mendapatkan jatah raskin yang terbatas.

Sementara itu musim panen sudah mulai di kawasan Bandung selatan, para petani derep bekerja mulai tengah malam untuk memotong padi para petani di sana.

Terkadang mereka harus menginap di sawah untuk bisa ikut menjadi pemotong padi yang diupah bawon oleh pemilik sawah dengan prosentase 10 rantang padi bagi pemilik dan berbanding satu rantang untuk derep.

Namun sebagian derep juga memungut tangkai padi untuk menyisir sisa-sisa padi yang masih menempel setelah dipisahkan dari batangnya atau istilahnya "nyasag".

"Setelah padi dipisahkan dari batangnya kan masih ada yang menempel, yah kami manfaatkan. Sehari bisa dapat setengah karung," kata Ma Nyai, salah seorang tukang nyasag.

Dirinya juga mengaku menjual beras hasil jerih payahnya untuk ditukarkan dengan raskin agar lebih banyak untuk stok keluarga.

Di lain pihak generasi derep di Bandung selatan sudah mulai berkurang, kebiasaan sebagai tukang panen padi tidak banyak yang diikuti oleh generasi muda yang memilih bekerja di pabrik tekstil atau sektor lainnya.

Meski demikian, kehadiran tukang derep dibutuhkan para petani di sana, meski terkadang kehadiran derep merepotkan pemilik sawah karena jumlahnya yang banyak dan terkadang memaksa untuk ikut panen.

"Terpaksa kami atur mereka, berdasarkan kebutuhan. Bagi yang tidak dipakai jasanya diminta cari lokasi panen lain," kata Miftah petani di Sumbersari Ciparay.

Dirinya mengaku salut dengan para derep karena terkadang mereka menginap di sawah dan tidak pulang ke rumah masing-masing hanya untuk mendapatkan kesempatan panen padi.

"Mereka kadang datang dari kampung yang jauh, kasihan juga bila tidak dapat jatah. Namun demikian harus diatur biar aman dan adil," kata Miftah menambahkan. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita