Senin, 28 Mei 2012
Dosen Uncen: Penambang Tradisional Di Papua Perlu Dapat Bimbingan
Rabu, 16 Februari 2011 02:43
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 16/2 (SIGAP) - Dosen Jurusan Teknik Mineral, Universitas Cenderawasih (Uncen), Patrik Fandy,ST mengatakan, Penambang tradisional yang banyak menambang bahan galian bangunan maupun mineral lainnya di sejumlah daerah di Papua, perlu mendapatkan bimbingan teknis dan pembinaan dari pihak-pihak terkait untuk meminimalkan risiko kecelakaan kerja.

Patrik mengakui, kegiatan penambangan tradisional yang dilakukan masyarakat dengan peralatan sederhana di sejumlah tempat di Papua belum memperhatikan faktor keselamatan.

"Para penambang tradisional ini melakukan teknik penambangan yang belum tepat sehingga dapat membahayakan diri mereka sendiri," katanya di Jayapura, Selasa (15/2).

Menurut Patrik Fandi, Kondisi geologi Papua pada khususnya Jayapura, menyebabkan daerah ini mengandung berbagai macam bahan galian yang termasuk kelompok bahan galian golongan B dan C.

Bahan galian golongan B atau disebut bahan galian vital dapat berupa emas, pasir besi, belerang atau pirit. Sedangkan bahan galian golongan C adalah bahan galian yang biasanya digunakan sebagai bahan konstruksi sipil misalnya batugamping, andesit, pasir kuarsa dan gipsum.

Patrik katakan, di wilayah Kota Jayapura dan sekitarnya, potensi emas sekunder banyak ditemukan berasosiasi dengan mineral-mineral sulfida. Endapan emas sekunder ini ditemukan di kaki-kaki perbukitan atau di sepanjang dasar sungai yang banyak membelah Kota Jayapura.

Selain itu, ada pula hematit residual yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran baja dan peralatan berbahan dasar besi. Penyebarannya di daerah perbukitan yang dekat dengan aktivitas masyarakat.

Sementara itu, bahan galian golongan C yang mudah ditemukan berupa batugamping, endapan pasir dan batu (sirtu) serta batuan metamorf.

Dijelaskan Patrik, potensi bahan galian ini sebenarnya cukup ekonomis jika dikelola dengan teknologi sederhana sehingga dapat membuka kesempatan kepada masyarakat yang ingin berwira usaha dengan modal yang tidak terlalu besar.

Namun, oleh karena keterbatasan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki masyarakat, kegiatan penambangan tradisional yang kini marak di Jayapura, justru tidak sedikit yang menimbulkan masalah, terutama berkaitan dengan risiko keselamatan kerja bagi para penambang.

"Untuk menambang emas, para penambang membuat lubang-lubang vertikal di sekitar dinding sungai atau tebing-tebing curam sehingga membentuk zona-zona lemah yang dapat menimbulkan longsoran," ujar Patrik.

Longsoran tersebut, lanjutnya, akan membahayakan nyawa penambang dan tidak menutup kemungkinan akan mengancam keselamatan masyarakat yang tinggal di daerah sekitarnya, terutama pada musim hujan, karena tebing-tebing yang dirusak tidak memiliki penahan vegetasi atau konstruksi dari kegiatan penambangan. Pemerintah daerah melalui dinas terkait harus memberikan pembekalan pengetahuan dan keterampilan penambangan tradisional yang mengutamakan keselamatan kepada penambang, untuk meningkatkan taraf hidup mereka, kata Patrik. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita