Senin, 28 Mei 2012
Dinkes: Kegiatan 3M Eefektif Tekan Demam Berdarah
Selasa, 15 Februari 2011 03:38
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 15/2 (SIGAP) - Kegiatan menguras, menutup dan mengubur (3 M) barang bekas melibatkan peranserta masyarakat, dinilai sangat efektif dalam menekan sekecil mungkin terjadinya kasus penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kota Denpasar dan sekitarnya.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar dr Luh Putu Sri Armini, di Denpasar, Selasa (15/2).

Dirinya mengatakan, upaya strategis yang dilakukan itu terbukti efisien dan efektif dalam memberantasan DBD, dan ini harus dilakukan secara berkesinambungan.

Penanggulangan masalah kebersihan menjadi tanggung jawab masyarakat bersama pemerintah, sekaligus mendukung program Kota Denpasar menjadi bersih dan hijau.

Pemerintah Kota Denpasar, menurut Luh Putu Sri Armini, dalam menyambut hari jadi ke-19 Pemkot Denpasar pada 27 Februari 2011, pihaknya akan mencanangkan Bulan Bakti Gerakan 3 M.

Lewat kegiatan tersebut Walikota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra mengajak komponen masyarakat dapat mengubah prilaku agar hidup sehat dan bersih.

Hal itu penting dilakukan, mengingat penanganan penyakit demam berdarah tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah atau organisasi saja, namun harus secara serentak dengan melibatkan komponen masyarakat.

Prilaku hidup sehat dimulai dari diri sendiri seperti tidak membuang sampah sembarangan, belajar mengelola sampah menjadi barang bernilai ekonomis dengan melakukan pemilahan, memanfaatkan dan mengolah agar lingkungan tetap bersih akan tercipta kesehatan lingkungan yang baik.

Dengan demikian, menurut Rai Mantra, endemi DBD dapat dicegah sedini mungkin, sekaligus memperoleh aspek ekonomi, keamanan dan kenyamanan secara estetika lingkungan.

Rai Mantra mengharapkan petugas lapangan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat memberikan penyuluhan kesehatan, agar mereka memiliki pemahaman berprilaku hidup sehat.

Petugas lapangan hendaknya tetap bersemangat mensosialisasikan masalah kesehatan, selain lebih mendekatkan diri pada masyarakatnya, dengan harapan mampu menggugah kesadaran mereka untuk hidup bersih dan sehat, harap Wali Kota Ida Bagus Rai Mantra.

Dinas Kesehatan Provinsi Bali mencatat penyakit DBD di Bali selama 2010 sebanyak 10.556 kasus, meningkat hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya yang tercatat 5.500 kasus.

Peningkatan yang cukup signifikan itu setelah dikaji, ternyata akibat adanya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan dirinya ke puskesmas atau rumah sakit berkat adanya pelayanan kesehatan cuma-cuma melalui Program Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM).

Kasus sebanyak itu terhitung merenggut 20 korban jiwa atau "case fatality rate" 0,23 persen, jauh lebih kecil dari angka secara nasional.

DBD di Bali masih tergolong penyakit endemis, karena hampir setiap tahun penyakit berbahaya itu muncul sejak awal ditemukan pada 1973.

Berdasarkan catatan SIGAP, Demam berdarah (DB) atau demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut yang ditemukan di daerah tropis, dengan penyebaran geografis yang mirip dengan malaria. Penyakit ini disebabkan oleh salah satu dari empat serotipe virus dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae.

Setiap serotipe cukup berbeda sehingga tidak ada proteksi-silang dan wabah yang disebabkan beberapa serotipe (hiperendemisitas) dapat terjadi. Demam berdarah disebarkan kepada manusia oleh nyamuk Aedes aegypti.

Penyakit ini ditunjukkan melalui munculnya demam tinggi terus menerus, disertai adanya tanda perdarahan, contohnya ruam. Ruam demam berdarah mempunyai ciri-ciri merah terang.

Selain itu tanda dan gejala lainnya adalah sakit perut, rasa mual, trombositopenia, hemokonsentrasi, sakit kepala berat, sakit pada sendi (artralgia), sakit pada otot (mialgia). Sejumlah kecil kasus bisa menyebabkan sindrom shock dengue yang mempunyai tingkat kematian tinggi. Kondisi waspada ini perlu disikapi dengan pengetahuan yang luas oleh penderita maupun keluarga yang harus segera konsultasi ke dokter apabila pasien/penderita mengalami demam tinggi 3 hari berturut-turut. Banyak penderita atau keluarga penderita mengalami kondisi fatal karena menganggap ringan gejala-gejala tersebut. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita