Senin, 28 Mei 2012
Dinkes: Cakupan Imunisasi Di Sulbar Lebih Nasional
Minggu, 13 Februari 2011 06:18
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 13/2 (SIGAP) - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat, Ahmad Azis, di Mamuju, Sabtu (12/2) mengatakan, Cakupan imunisasi pada bayi dan anak-anak di Provinsi Sulawesi Barat selama 2010 mencapai 70,6% atau melebihi angka nasional sebesar 68.

Dikatakan Ahmad Azis, tingginya tingkat imunisasi berdampak baik karena makin banyak warga yang bisa bebas dari banyak penyakit.

Menurutnya, meskipun tinggi dan diatas nasional namun tingkat masyarakat yang harus mendapatkan imunisasi di Sulbar tidak mencapai target, karena pemerintah di Sulbar mentargetkan angka masyarakat yang mendapatkan imunisasi nilainya harus mencapai sekitar 85.

Azis mengatakan, masih banyak masyarakat di Sulbar yang berpenduduk sekitar satu jiwa tidak mendapatkan imunisasi karena di daerah ini banyak wilayah yang sulit mendapat akses kesehatan karena masyarakatnya berada di daerah terpencil.

Menurut Azis, banyak warga yang bermukim di daerah kepulauan seperti di Kepulauan Kecamatan Balak-balakang Kabupaten Mamuju dan sebagian daerah di Kabupaten Mamasa yang wilayahnya adalah pegunungan yang jaraknya jauh untuk dapat maksimal mendapatkan pelayanan medis.

Selain itu katanya, juga disebabkan karena kurannya anggaran yang dimiliki pemerintah untuk program imunisasi serta terbatasnya peralatan dan tenaga medis yang dimiliki.

Dirinya mengatakan, dari lima Kabupaten di Sulbar wilayah yang masyarakatnya mendapatkan imunisasi paling banyak adalah Kabupaten Majene dengan nilai 75 kemudian Kabupaten Polman sebagai Kabupaten yang memiliki penduduk paling banyak di Sulbar dengan nilai sekitar 70.

Setelah itu Kabupaten Mamuju Utara dengan nilai 50 kemudian Kabupaten Mamasa dengan nilai sekitar 36, dan Kabupaten Mamuju dengan nilai sekitar 20.

Berdasarkan catatan SIGAP, imunisasi ada dua macam, yaitu imunisasi aktif dan pasif. Imunisasi aktif adalah pemberian kuman atau racun kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri. Contohnya adalah imunisasi polio atau campak.

Sedangkan imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah antibodi, sehingga kadar antibodi dalam tubuh meningkat. Contohnya adalah penyuntikan ATS (Anti Tetanus Serum) pada orang yang mengalami luka kecelakaan. Contoh lain adalah yang terdapat pada bayi yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima berbagai jenis antibodi dari ibunya melalui darah placenta selama masa kandungan, misalnya antibodi terhadap campak.

Setiap tahun di seluruh dunia, ratusan ibu anak-anak dan dewasa meninggal Karena penyakit yang sebenarnya masih dapat dicegah. Hal ini dikarenakan kurangnya informasi tentang pentingnya Imunisasi. Bayi-bayi yang baru lahir, anak-anak usia muda yang bersekolah dan orang dewasa sama-sama memiliki resiko tinggi terserang penyakit-penyakit menular yang mematikan seperti; Diferi, Tetanus, Hepatitis B, Influenza, Typhus, Radang selaput otak, Radang paru-paru, dan masih banyak penyakit lainnya yang sewaktu-waktu muncul dan mematikan.

Untuk itu salah satu pencegahan yang terbaik dan sangat vital agar bayi-bayi, anak-anak muda dan orang dewasa terlindungi hanya dengan melakukan Imunisasi.(laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita