Senin, 28 Mei 2012
Dinkes Pontianak Antisipasi Penyakit DBD Dampak Cuaca Ekstrem
Sabtu, 12 Februari 2011 00:00
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 12/2 (SIGAP) - Dinas Kesehatan Kota Pontianak melakukan antisipasi dini terhadap ancaman penyakit demam berdarah dengue dan penyakit lainnya sebagai dampak dari cuaca ekstrem sepanjang tahun 2011.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Multi Junto Bhatarendro di Pontianak, Jumat (11/2) mengatakan, meski selama Januari 2011 tidak ditemukan pasien DBD, masyarakat hendaknya tetap mengontrol jentik nyamuk yang banyak ditemukan di tempat-tempat penampungan air.

"Karena angka bebas jentik di wilayah Kota Pontianak baru mencapai 50 persen, padahal jika ingin terbebas dari DBD harus mencapai 85 persen," kata Multi.

Menurutnya, sepanjang Januari mencatat penyakit yang cukup meningkat, yakni penyakit tipes sekitar 200 kasus yang terdata di Puskesmas dan rumah sakit yang ada di Pontianak.

"Penyakit tipes itu timbul karena lingkungan yang tidak sehat dan pola makan yang tidak memadai sehingga muncul penyakit tersebut," ujarnya.

Menurutnya, ada beberapa penyakit sebagai dampak dari cuaca ekstrem yang perlu diwaspadai, seperti penyakit DBD akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti, infeksi saluran pernapasan atas, diare, malaria dan lain-lain.

Kota Pontianak tahun 2009 telah dinyatakan mengalami KLB DBD, tahun 2009 dengan 3.187 kasus, sebanyak 62 orang meninggal tahun 2005 sebanyak 450 kasus, meninggal enam pasien, tahun 2006 sebanyak 1.288 kasus, meninggal 16 pasien, tahun 2007 sebanyak 121 kasus, meninggal tiga pasien, tahun 2008 sebanyak 282 kasus, meninggal 20 pasien.

Pemkot Pontianak, cukup serius dalam menekan penyakit DBD akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti, tahun 2010 telah dianggarkan sekitar Rp2 miliar atau jauh meningkat dibanding tahun 2009 sebesar Rp300 juta.

Tahun 2010, dari 70 kasus dua orang diantaranya meninggal, satu kasus di Kecamatan Pontianak, Utara dan Timur, kata Multi.

SIGAP mencatat, Demam berdarah (DB) atau demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut yang ditemukan di daerah tropis, dengan penyebaran geografis yang mirip dengan malaria. Penyakit ini disebabkan oleh salah satu dari empat serotipe virus dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. Setiap serotipe cukup berbeda sehingga tidak ada proteksi-silang dan wabah yang disebabkan beberapa serotipe (hiperendemisitas) dapat terjadi. Demam berdarah disebarkan kepada manusia oleh nyamuk Aedes aegypti. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita