Senin, 28 Mei 2012
Warga Langsa Tanam 5.000 Pohon Bakau
Rabu, 09 Februari 2011 04:01
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 9/2 (SIGP) - Kepala Desa Teulaga Tujoh, Kecamatan Langsa Barat, Kota Langsa, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Yuswar, Selasa (8/2) mengatakan, warga Gampong (Desa) Teulaga Tujoh  melakukan penanaman 5.000 pohon bakau di pesisir pantai Pusong.

"Penanaman pohon bakau di sepanjang pesisir laut Selat Malaka itu untuk mencegah meluasnya abrasi," katanya di Langsa.

Penanaman ribuan pohon bakau yang dilakukan kelompok masyarakat peduli lingkungan itu juga diprakarsai Aceh Wetland Foundation.

Warga yang berdomisili di kawasan Pusong itu juga berharap pemerintah setempat untuk ikut berpartisipasi mengupayakan pencegahan meluasnya abrasi laut Selat Malaka di Kota Langsa.

Didampingi koordinator lapangan Efendi, drinya mengatakan penanaman pohon bakau yang dilakukan puluhan warga itu dilaksanakan dengan sukarela tanpa dibayar upah.

"Penanaman pohon ini atas inisiatif warga yang ingin menghijaukan pantai dan mencegah abrasi," katanya.

Direktur Eksekutif Aceh Wetland Foundation Rahimsyah mengatakan, gerakan penghijauan yang dilakukan kelompok masyarakat peduli lingkungan di Pusong merupakan salah satu upaya menyelamatkan ekosistem bakau yang terancam punah di daerah itu.

"Banyak pohon bakau di pesisir pantai Aceh yang mati akibat penebangan liar dan bencana alam, aksi penanaman yang dilakukan warga Pusong itu juga bertujuan menyelamatkan ekosistem bakau di pantai timur Aceh," kata Rahimsyah.

Hutan mangrove di kawasan Kota Langsa dan Kabupaten Aceh Timur sejak beberapa tahun terakhir juga terancam punah akibat alih fungsi lahan perkebunan kelapa sawit dan eksploitasi industri arang kayu.

Aktivis lingkungan itu juga berharap Pemerintah Kota Langsa berperan serta melakukan penghijauan di kawasan pesisir pantai dan melestarikan ekosistem hutan mangrove.

Dalam catatan SIGAP, mangrove penting dikembangkan karena tumbuh di muara sungai, daerah pasang surut atau tepi laut. Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar nafas (pneumatofor).

Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen atau bahkan anaerob.

Hutan mangrove juga merupakan habitat bagi beberapa satwa liar yang diantaranya terancam punah, seperti harimau sumatera (Panthera tigris sumatranensis), bekantan (Nasalis larvatus), wilwo (Mycteria cinerea), bubut hitam (Centropus nigrorufus), dan bangau tongtong (Leptoptilus javanicus, dan tempat persinggahan bagi burung-burung migran. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita