Senin, 28 Mei 2012
Diskes Kerinci Terus Pantau 6 Desa Flu Burung
Selasa, 08 Februari 2011 03:49
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 8/2 (SIGAP) - Dinas Kesehatan Kabupaten Kerinci hingga saat ini mengakui masih terus melakukan memantau secara intensif perkembangan penularan wabah flu burung atau avian influenza yang menyerang ternak ayam 6 desa di 2 kecamatan.

"Hingga saat ini petugas kita masih terus memantau keberadaan wabah diduga flu burung yang menyerang ternak unggas di enam desa dalam dua kecamatan. Saat ini kondisi di TKP masih terkendali," kata Kadiskes Haslam Rabit SKM MM, di Kerinci, Senin (7/2).

Menurut Haslam, keenam desa dalam dua kecamatan tersebut yakni Kecamatan Danau Kerinci dan Sitinjau Laut yang menjadi tempat ditemukannya serangan flu burung terhadap 4.164 ekor ayam ternak milik warga.

Desa-desa tersebut kini sudah diisolasi oleh pihak Disnak dan Diskes setempat guna mencegah meluasnya dampak wabah tersebut. Keenam desa tersebut yakni Desa Sleman di Kecamatan Danau Kerinci, serta Desa Sebukar, Semerah, Tanjung Muda, Koto Baru Hiang dan Pendung Tengah di Kecamatan Sitinjau Laut Di antara tindakan isolasi yang dilakukan adalah pemusnahan ayam-ayam ternak warga yang terindikasi terserang wabah flu burung.

Sementara terhadap warga pihak terkait meningkatkan penyuluhan pola hidup sehat mencegah tertularnya penyakit berbahaya dari unggas tersebut.

Selain itu, kata Haslam, petugas juga melakukan penyemprotan terhadap kandang ternak yang ada. Sementara warga, kata Haslam, diminta untuk tidak menyentuh ternak jenis unggas, tidak hanya ayam tapi juga jenis unggas lainnya seperti bebek, entok, puyuh, ruwak, burung piaraan dan lainnya. Warga juga diminta untuk senantiasa menjaga kebersihan diri, juga membersihkan kandang ternak.

Ketika harus bersentuhan dengan unggas seperti ayam warga diminta menggunakan sarung tangan karet, dan masker. Setelah itu diharuskan mencuci tangan dengan sabun agar kembali bersih dan higienis. Ayam yang mati pun diminta untuk tidak dibuang ke Sungai seperti biasanya kebiasaan masyarakat, karena bangkai ayam yang tertular tersebut bisa mengakibatkan binatang lain bahkan manusia yang berada di hilir sungai bisa ikut tertular wabah tersebut sehingga penyebarannya menjadi tidak terkendali.

Seperti diketahui, hingga saat ini belum ada warga yang dilaporkan atau ditemukan telah tertular. "Kita berharap wabah tersebut tidak sampai menulari manusia, karena itu tentu semakin sulit dan rumit penanganannya," katanya.

Berdasarkan catatan SIGAP, seperti yang diperoleh dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen kesehatan RI, pencegahan pada unggas dapat dilakukan dengan cara pemusnahan unggas/burung yang terinfeksi flu burung dan vaksinasi pada unggas yang sehat.

Sedangkan pada manusia, terutama kelompok yang berisiko tinggi adalah para pekerja peternakan dan pedagang. Untuk itu sangat disarankan untuk mencuci tangan dengan desinfektan dan mandi sehabis bekerja, hindari kontak langsung dengan ayam atau unggas yang terinsfeksi flu burung, menggunakan alat pelindung diri (contoh masker dan pakaian kerja), meninggalkan pakaian kerja ditempat kerja, membersihkan kotoran unggas setiap hari serta melakukan imunisasi.

Sedangkan bagi masyarakat umum perlu menjaga daya tahan tubuh dengan memakan makanan bergizi dan istirahat cukup, mengolah unggas dengan cara yang benar, yaitu dengan memilih unggas yang sehat (tidak terdapat gejala-gejala penyakit pada tubuhnya) dan memasak daging ayam sampai dengan suhu ± 800C selama 1 menit dan pada telur sampai dengan suhu ± 640C selama 4,5 menit. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita