Senin, 28 Mei 2012
BPS: NTP Lampung Pada Januari Turun 0,69%
Jumat, 04 Februari 2011 03:07
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 4/2 (SIGAP) - Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung menyebutkan hasil pemantauan harga-harga di perdesaan pada Januari 2011 menunjukkan nilai tukar petani (NTP) di provinsi tersebut turun 0,69% dibandingkan Desember 2010.

Kepala BPS Lampung Muhammad Razif, di Bandarlampung, Jumat (4/2) menjelaskan, kenaikan harga pada subsektor tanaman pangan seperti gabah dan subsektor hortikultura seperti cabai, tidak mampu meningkatkan kesejahteraan petani karena harga barang/jasa konsumsi jauh lebih tinggi.

Dirinya menjelaskan, NTP Lampung (atau gabungan) pada Januari 2011 tercatat sebesar 117,29. Jika dipilah, untuk subsektor padi dan palawija sebesar 126,08.

Kemudian, subsektor hortikultura 107,02; subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 112,93; subsektor peternakan sebesar 105,45; dan subsektor perikanan sebesar 112,53.

Jika NTP per subsektor pada Januari 2011 dibandingkan dengan Desember 2010, lanjutnya, terlihat bahwa dua dari lima subsektor NTP mengalami kenaikan, subsektor tanaman perkebunan rakyat yang naik 0,12% dan subsektor perikanan naik 0,06%.

Sedangkan tiga subsektor mengalami penurunan yaitu subsektor tanaman pangan 1,19%, subsektor tanaman hortikultura 0,15% dan subsektor peternakan 0,76%.

Kepala BPS Lampung itu menjelaskan, dari 32 provinsi yang dilaporkan pada Januari 2011, sebanyak 20 provinsi mengalami kenaikan NTP dan 12 provinsi mengalami penurunan NTP.

Kenaikan tertinggi terjadi di Sulawesi Utara yaitu 1,05%, yakni dikarenakan harga yang dibayar petani hanya naik 0,36 persen sedangkan harga yang diterima naik 1,41%.

Sementara itu, penurunan NTP terbesar terjadi di Papua yakni sebesar 0,93% karena terjadi kenaikan harga yang dibayar petani 0,62%, sebaliknya harga yang diterima petani turun 0,31%.

Razif menambahkan, dengan NTP 117,82 Provinsi Lampung merupakan yang tertinggi di se-Sumatera bahkan se-Indonesia.

"Dengan demikian, perkembangan harga produk pertanian lebih tinggi peningkatannya dibandingkan dengan harga barang/jasa non-pertanian," kata Muhammad Razif. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita