Senin, 28 Mei 2012
Dishut: Bengkulu Kembangkan Tanaman Gaharu Kayu Alam
Rabu, 02 Februari 2011 06:20
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 2/2 (SIGAP) - Kepala Bidang Program Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu Tahan Simamora, di Bengkulu, Rabu (2/2) mengatakan, Provinsi Bengkulu tahun 2011 akan mengembangkan tanaman budi daya gaharu kayu alam dan pembibitan dalam rangka menjadi wilayah produksi terbesar getah gaharu ke depan.

Dirinya menambahkan, ke depan tanaman tumbuh alam dan kecambah gaharu akan dikembangkan kepada masyarakat dengan pola teknologi modern, karena daerah ini sangat potensi bagi pengembangan kayu tersebut.

Budidaya tegakan pohon dari kecambah akan lebih cepat berproduksi bila dilakukan sistem suntik pada tegakan, dibandingkan dengan tegakanan tumbuh alami seperti yang dilakukan di wilayah Indonesia timur.

Pengembangan gaharu pada tegakan tumbuh alami acapkali gagal karena kultur tumbuhnya tidak diketahui sejak awal seperti perlakuan terhadap tumbuhan melalui kecambah. Untuk itu kepada para pengusaha yang bergerak di sektor tanaman gaharu lebih dianjurkan memperbanyak budidaya dari tanaman kecambah.

Diakuinya, tegakan pohon gaharu tumbuh alam di Bengkulu cukup banyak dan terdapat di berbagai tempat, namun sering gagal dalam menerapkan teknologi pembuatan getah berkulitas baik.

Potensi tumbuhnya kayu gaharu di Bengkulu sebagai besar terdapat di lereng kawasan perbukitan di sepanjang Bukit Barisan, namun ada juga tumbuh di sekitar pekarangan rumah penduduk.

Pohon gaharu alami yang pernah dikelola selama ini sebagian besar masih berada pada dataran rendah yakni sekitar pinggiran Kota Bengkulu, namun ada juga sudah ada pengembangan tanaman pada lereng Bukit Barisan.

Sebelumnya sebuah perusahaan swasta menawarkan untuk mengembangkan dan membudidayakan pohon gaharu di Provinsi Bengkulu, mengingat tanaman itu cukup banyak dan tumbuh secara alami dan getahnya wangi mempunyai nilai ekonomi tinggi.

Provinsi Bengkulu sejak dulu menjadi salah satu habitat tumbuhnya kayu gaharu alam, namun produksinya nihil akibat tidak diberdayakan dengan teknologi moderen.

Produksi gaharu di tanah air antara tahun 1970-1990 mencapai 600 ton/tahun, jumlah itu menurun antara tahun 1990-2000 antara 300-400 ton/tahun, dan sejak tahun 2002 dari kuota ekspor 300 ton hanya terpenuhi 30 ton.

Produksi itu antara lain disebabkan berkurangnya produksi gaharu alami akibat turunnya daya dukung hutan serta berkurangnya jumlah tegakan pohon dan tingginya serangan penyakit pada pembentukan pohon gaharu dalam proses produksi.

Indonesia sempat dikenal sebagai penghasil gaharu terbesar di dunia, sampai akhir tahun 1998 mampu memasok lebih dari 300 ton/tahun, tambahnya.

Sementara itu, Direktur Utama CV Gaharu 88 Bengkulu Joni Surya, mengatakan, pihaknya sudah menawarkan ke pemprov untuk mengembangkan pohon gaharu dalam skala besar, sebab tanaman itu punya nilai ekonomi tinggi, sementara di Bengkulu banyak tumbuh secara alami namun belum dikelola dengan baik.

Namun selama ini dukungan dari pemerintah daerah sangat minim dan terfokus pada tanaman kelapa sawit dan jenis tanaman tahunan lainnya, padahal tanaman gaharu cukup pada sela tanaman karet atau pekarangan.

Getah gaharu diperoleh melalui metode suntik dengan bahan tertentu saat ini diminati oleh Cina, Taiwan dan beberapa negara di Timur Tengah.

Permintaan luar negeri saat ini cukup tinggi dan tidak pernah berhenti, namun persediaan masih sangat kurang, karena belum dibudidayakan secara serius masyarakat Bengkulu.

Perusahaan itu sejak beberapa tahun terakhir telah melakukan panen getah pohon gaharu (aquillaria malacenses) dengan luas tegakan sekitar 500 batang dan sudah menghasilkan sekitar 50 kg/pohon. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita