Senin, 28 Mei 2012
Dinkes Semarang Tangani 8 Kasus Gizi Buruk
Selasa, 01 Februari 2011 05:24
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 1/2 (SIGAP) - Dinas Kesehatan Kota Semarang saat ini tengah menangani delapan kasus balita yang mengalami gizi buruk yang berasal dari berbagai wilayah di kota tersebut.

"Delapan kasus gizi buruk itu sebenarnya kami temukan pada 2010, namun hingga kini belum selesai ditangani," kata Kepala Dinkes Kota Semarang, Niken Widyah Hastuti di Semarang, Senin (31/1).

Dirinya menyebutkan delapan balita itu, dua balita berasal dari Kelurahan Kalibanteng, sedangkan Gayamsari, Bendungan, Muktiharjo, Poncol, Bulu Lor, dan Ngaliyan masing-masing satu balita.

Tiga dari delapan balita yang mengalami gizi buruk tersebut, kata Niken, disertai pula dengan penyakit lainnya, seperti anemia, tuberkulosis (TBC), dan penyakit pernafasan.

Terkait kasus gizi buruk, dirinya menyebutkan, sepanjang 2010 telah ditemukan sebanyak 39 kasus, dengan 34 kasus baru dan lima kasus lainnya merupakan sejak 2009 dan belum selesai ditangani.

"Kalau jumlah keseluruhan balita yang ada di Semarang sebanyak 112.972 anak, karena itu kami terus optimalkan penanganan terhadap delapan balita yang terkena gizi buruk ini," katanya.

Menurutnya, kasus gizi buruk umumnya ditemukan pada keluarga yang tergolong tidak mampu sehingga tak mampu memenuhi ketercukupan asupan gizi terhadap anaknya.

Dirinya menjelaskan, penanganan balita bergizi buruk memerlukan langkah komprehensif dan pemeriksaan pada kedua orang tua, agar pemulihan kondisi mereka bisa dilakukan lebih optimal.

"Orang tua pun perlu menjalani terapi, sebab ada balita yang menderita kelainan bawaan. Kami terus lakukan pendampingan dan berharap jumlahnya terus mengalami penurunan setiap tahun," kata Niken.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Keluarga Dinkes Kota Semarang, Purwati mengatakan sebenarnya ada dua jenis gangguan gizi yang diderita oleh balita.

"Yang pertama adalah `Kwashiorkor edema` yang ditandai dengan pembengkakan pada seluruh tubuh dan kedua, `marasmus` yang ditandai dengan kondisi tubuh yang kurus kering," katanya.

Dirinya menjelaskan, beberapa ciri balita yang menderita gizi buruk, yakni kulit kering keriput, kulit tanpa lemak, perut membusung, dan rambut seperti jagung.

"Kalau untuk penderita `kwarshiorkor edema`, biasanya ada bekas di tubuh setelah dipegang. Selain itu, balita penderita gizi buruk biasanya cenderung rewel dan cengeng," kata Purwati.

Seperti diketahui, gizi buruk adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan karena kekurangan asupan energi dan protein juga mikronutrien dalam jangka waktu lama. Sementara, anak disebut gizi buruk apabila berat badan dibanding umur tidak sesuai (selama 3 bulan berturut tidak naik) dan tidak sertai tanda-tanda bahaya. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita