Senin, 28 Mei 2012
PSG dan Kadarzi: Angka Kurang Gizi Di Gorontalo Turun
Senin, 31 Januari 2011 00:00
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 31/1 (SIGAP) - Berdasarkan Hasil Pemantauan Status Gizi dan Keluarga Sadar Gizi (PSG dan Kadarzi), prevalensi kurang gizi di Provinsi Gorontalo 2010, turun menjadi 17,05% dari tahun 2009 sebesar 18,97%.

Wakil Gubernur Gorontalo, Toni Uloli menjelaskan, pemprov bekerja sama denga seluruh pemda kabupaten dan kota, untuk menjalankan 2 program perbaikan gizi jangka pendek.

Program tersebut dilaksanakan melalui "Therapeutic Feeding Centre" atau pusat pemulihan gizi balita dan ibu hamil.

"Atas upaya tersebut, pemprov berhasil menekan angka kurang gizi setiap tahunnya," ungkap Wagub.

Menurutnya, penurunan angka kurang gizi tersebut melampaui target nasional sebesar 18,4 persen dan target MDGs yakni 18,8 persen.

Dirinya menambahkan, pihaknya memprioritaskan masalah gizi, karena sangat berdampak pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di daerah tersebut.

"Selain itu, gizi merupakan faktor penentu dalam masalah kesehatan dan kualitas hidup masyarakat," ujarnya.

Sebelumnya, Dewan Pembina Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi,  Zaenal Abidin, dalam diskusi menyambut Hari Gizi Nasional 2011, Sabtu (22/1) lalu di Jakarta mengatakan, anak-anak sekolah di Indonesia disinyalir masih mengalami kurang gizi hingga saat ini.

Menurut Zaenal, ini terjadi karena kurangnya asupan energi dan protein yang seharusnya diperoleh anak-anak sehari-hari melalui makanan yang bergizi seimbang.

Zaenal menjelaskan, angka kecukupan gizi anak usia 7 - 9 tahun membutuhkan energi sebesar 1.600-1.800 kilo kalori (Kkal) dan kebutuhan protein sebesar 45 gram. Namun, berdasarkan data 2007 dari pakar gizi Universitas Indonesia, Saptawati Bardosono, sekitar 94,5% dari 220 anak yang diteliti di lima SD di wilayah DKI Jakarta, mengkonsumsi makanan dengan kalori di bawah standar.

Ini merupakan data terakhir karena selama ini gizi anak sekolah belum menjadi prioritas utama layanan kesehatan. Kurang gizi ini mengakibatkan daya tangkap anak sekolah berkurang, pertumbuhan fisik tidak optimal cenderung postur tubuh pendek serta anak mudah terkena penyakit.

Sementara itu, menurut Ketua Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Tirta Prawita Sari seperti yang dikutip kompas.com mengatakan, kekurangan gizi ini juga diakibatkan keterbatasan ekonomi dan pola asuh orangtua yang sering membiasakan mengkonsumsi makanan dengan gizi tidak seimbang. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita