Senin, 28 Mei 2012
Dinkes: 40% Persalinan Di Lebak Ditangani Paraji
Minggu, 30 Januari 2011 07:39
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 30/1 (SIGAP) - Kepala Bidang Bina Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Kusbandrio, Minggu (30/1) mengatakan, sekitar 40 persen persalinan di Kabupaten Lebak ditangani dukun paraji dengan alasan kepercayaan masyarakat cukup tinggi terhadap dukun beranak tersebut.

Selain itu juga tarif biaya persalian tidak relatif murah.

Kusbandrio menambahkan, meskipun masih ada ibu hamil melahirkan menggunakan jasa paraji, tetapi sekitar 60% sudah pergi ke tenaga bidan.

Menurut Kubandrio, pihaknya optimistis ke depan persalinan yang ditangani paraji dengan sendirinya menghilang sehubungan adanya penyebaran tenaga bidan desa dengan status pekerja tidak tetap (PTT).

Mereka bidan desa berstatus PTT menerima gaji Rp1,4 juta per bulan dari Kementerian Kesehatan.

Saat ini, jumlah tenaga bidan desa tercatat 441 orang terdiri dari PTT dan pegawai negeri sipil (PNS).

Namun, penyebaran tenaga bidan desa hingga kini masih kurang sekitar 100 orang, walaupun jumlah desa sebanyak 345 desa.

Kekurangan tersebut, kata dia, pihaknya mengusulkan kepada Kementerian Kesehatan Pusat untuk segera merekrut tenaga bidan desa berstatus PTT.

Saat ini, kekurangan tenaga bidan desa untuk ditempatkan di Puskesmas Perawatan maksimal sebanyak tiga orang.

"Saya berharap tahun 2011 Kementerian Kesehatan ada rekrutmen kembali untuk tenaga bidan desa status PTT," ujarnya.

Dirinya menyebutkan, selama ini angka kematian ibu (AKI) turun drastis setelah adanya penyebaran tenaga bidan.

Pada 2009, kata dia, angka kematian ibu hamil sebanyak 42 kasus, namun 2010 turun menjadi 22 orang.

"Saya yakin dengan adanya tenaga bidan kemungkinan AKI terus turun," jelasnya.

Kusbandrio mengimbau masyarakat agar memeriksakan kesehatan kehamilan kepada tenaga bidan untuk menekan angka kematian.

Selain itu juga tenaga bidan sangat trampil dan tidak diragukan lagi karena mereka memiliki keilmuan di bidang persalinan dibandingkan paraji.

Tugas dukun beranak itu hanya sebatas membantu dan tidak melakukan praktek penanganan persalinan.

"Kami saat ini akan memberikan pembinaan dan pelatihan terhadap paraji untuk membantu tenaga medis," katanya.

Sementara itu, Fitri (30) seorang ibu hamil warga Judan Desa Rangkasbitung Timur Kecamatan Rangkasbitung mengaku, dirinya diperkirakan kelahiran anaknya awal Februari dan akan pergi ke dukun paraji karena tidak memiliki uang untuk persalinan di bidan.

"Semua anak saya dari anak pertama dan kedua ditangani dukun paraji, karena persalinan ke bidan harus bayar Rp500 ribu. Uang sebesar itu kami tidak punya karena suaminya hanya buruh bangunan," katanya. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita