Senin, 28 Mei 2012
Pontianak: Dinkes Antisipasi Penyakit Dampak Cuaca Ekstrem
Sabtu, 29 Januari 2011 08:39
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 29/1 (SIGAP) - Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat Andi Jap di Pontianak, Sabtu (29/1) mengatakan, Dinkes Kalimantan Barat, saat ini sedang melakukan antisipasi timbulnya berbagai penyakit sebagai dampak dari cuaca ekstrem sepanjang tahun 2011.

"Meski pun pada umumnya, belum ada penyakit yang menonjol sebagai dampak dari cuaca ekstrem, tetapi kami saat ini sedang mempersiapkan kemungkinan buruk yang bisa terjadi, seperti penyediaan cadangan obat-obatan dan tenaga kesehatan," kata Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Andi Jap di Pontianak, Sabtu (29/1).

Dirinya menjelaskan, hingga saat ini pihaknya selalu melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan kabupaten/kota di Kalbar, agar setiap gejala penyakit sebagai dampak dari cuaca ekstrem bisa cepat ditangani secara bersama-sama.

"Kalau memang daerah tidak mampu menangani suatu penyakit, maka kami siap memberikan bantuan, baik logistik obat-obatan dan bantuan tenaga kesehatan," ujarnya.

Menurutnya, dampak dari cuaca ekstrem, ada beberapa penyakit yang perlu diwaspadai, seperti penyakit demam berdarah dengue (DBD) akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), diare, malaria dan lain-lain.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Multi Junto Bhatarendro menyatakan, wilayah Kota Pontianak umumnya merupakan wilayah berbasis air sehingga angka bebas jentiknya sangat rendah.

Saat ini bebas jentik di wilayah Kota Pontianak baru mencapai 50 persen, padahal jika ingin terbebas dari DBD harus mencapai 85%.

Kota Pontianak tahun 2009 telah dinyatakan mengalami KLB DBD, karena pada tahun itu ada 3.187 kasus, sebanyak 62 orang meninggal. Sedangkan tahun 2005 sebanyak 450 kasus meninggal enam pasien, tahun 2006 sebanyak 1.288 kasus meninggal 16 pasien, tahun 2007 sebanyak 121 kasus meninggal tiga pasien, tahun 2008 sebanyak 282 kasus dan yang meninggal 20 pasien.

Pemerintah Kota Pontianak, cukup serius dalam menekan penyakit DBD akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Pada tahun 2010 telah dianggarkan sekitar Rp2 miliar atau jauh meningkat dibanding tahun 2009 sebesar Rp300 juta.

Tahun 2010, dari 70 kasus dua orang di antaranya meninggal, satu kasus di Kecamatan Pontianak, Utara dan Timur, kata Multi. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita