Senin, 28 Mei 2012
Membaca Fenomena Gempa Dengan Metode Statistik
Jumat, 28 Mei 2010 14:24
AddThis Social Bookmark Button

Sigap - Gempa di Indonesia secara statistik memiliki pola-pola tertentu yang terus berulang. Bukan tidak mungkin, hal ini bisa dijadikan salah satu terbosan untuk melakukan prediksi kapan fenomena alam itu bakal terjadi kemudian hari.

Demikian disampaikan Staf Khusus Presiden (SKP) Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam, Andi Arief, kepada Sigap, Jumat (28/5/2010).

Menurut catatan Sigap, prediksi pernah di sampaikan dalam pertemuan "Internasional Meeting on Sumatran Earthquake Challenge" di Padang, yang berlangsung 24 sampai 28 Agustus tahun 2008. Dalam pertemuan tersebut 60 pakar gempa bumi dan tsunami dari Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Perancis, Taiwan dan Indonesia, hadir dengan latar disiplin ilmu paleo-seismik, paleo-tsunami, seismologi, tektonik geodesi, engineering seismologi, earthquake engineering, Tsunami Early System (TWA) modern dan pakar pendidikan masyarakat untuk masalah gempa.

Prediksi hasil kajian para pakar tersebut sesuai dan tepat. Pada 30 September 2009 terjadilah gempa bumi di Padang, Pariaman dan sekitarnya dengan kekuatan mencapai 7,6 SR. Saat itu disampaikan bahwa Kota Padang merupakan daerah yang paling rawan terhadap potensi terjadinya tsunami di Dunia, yang pengulangannya sekitar 200 tahun ke depan sejak terakhir terjadi tahun 1833. Lebih jauh, potensi bencana gempa dan tsunami di Padang, diramalkan juga akan merambat ke kab dan kota sekitarnya termasuk Pariaman, terus ke Bengkulu, Anyar, Lampung dan Pelabuhan Ratu.

Kemudian, adalah hasil kajian Kerry Sieh, Direktur Earth Observatory of Singapore, memperkirakan akan terjadi gempa bumi dengan kekuatan kekuatan 8,8 SR. Gempa bumi kolosal (sangat besar) itu, menurutnya diperkirakan akan menghantam Pulau Sumatera dalam waktu 30 tahun ke depan. Pendapat itu disampaikan dalam presentasinya di Universitas Teknologi Nanyang Singapura, pada 15 Oktober 2009. Ia menegaskan bahwa gempa 7,6 SR yang mengguncang Padang, Sumatera Barat, berdurasi 45 detik. Dan dia memperkirakan gempa selanjutnya akan memiliki durasi 6 kali lebih lama dibanding gempa 30 September 2009 itu. Metodologi yang digunakan yakni dengan menggunakan specimen koral dari wilayah Sumatera untuk mengetahui alur tren gempa. Berdasarkan analisisnya, gempa 30 September lalu hanyalah pertanda bahwa akan ada gempa yang lebih besar yang akan terjadi.

Juga, International Symposium on Earthquake and Precursor, dengan tema “On The Possibility of Establishing For Earthquake Precursors Monitoring System”, yang diselenggarakan oleh JISNET (Japan-Indonesian Seismic Network) dan Task Force Meeting on Establishment of Monitoring Network of Tsunami Early Warning Systems in South East Asia. Di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 16-20 November 2009.

Terakhir, seperti dalam “The September 2009 Padang earthquake” yang diterbitkan oleh Nature Geoscience's Journal pada 17 Januari 2010 lalu. Dalam korespondennya Profesor John McCloskey, ahli Gempa bumi, kepala Geofisika Research Group di Ulster's Environmental Sciences Research Institute juga membuktikan prediksi yang sama. Bahwa di tahun 2005 akan terjadi gempa susulan besar setelah gempa dan tsunami Aceh. Gempa bumi yang mengguncang Padang, Sumatra Barat pada bulan September tahun lalu menewaskan lebih dari 1000 orang itu diprediksikan bukan 'gempa bumi besar', bahkan dimungkinkan akan menyebabkan gempa yang lebih besar lagi.

Menurut Andi, metode statistik ini, merupakan pelengkap dari berbagai analisis, catatan, dan prediksi menyangkut kejadian gempa dan antisipasinya. “kita menghendaki, dengan kajian yang saling memperkuat, dapat diambil arah kebijakan menyangkut pengurangan resiko bencana, yang setidaknya bisa menjadi tanggung jawab semua pihak. Rencana Umum Tata Ruang, kurikulum pendidikan yang memuat materi mitigasi bencana dari SD hingga perguruan tinggi, serta alih teknologi yang terus menerus,” ungkap alumnus Fisipol UGM ini. Karenanya, pihaknya bersama sejumlah ahli gempa dari ITB, LIPI, UGM serta Universitas Andalas, akan melakukan kajian terhadap pola pengulangan gempa tersebut. Hasil kajian ini diharapkan bermanfaat bagi mitigasi bencana, khususnya gempa, di Indonesia.

Andi mengungkapkan, secara statistik untuk wilayah Jawa, zona gempa mulai dari Selat Sunda, Sukabumi, Cianjur, Jakarta, Bandung, Tasikmalaya, Ciamis, Cilacap, Yogyakarta, sampai Jawa Timur. Gempa Jawa tercatat lumayan banyak dan besar tahun demi tahun. Sedang untuk zona Sumatera mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatra Barat, Bengkulu hingga Sumatera Selatan. Gempa Sumatera tercatat sangat banyak dan besar dari tahun demi tahun. Sedangkan zona gempa Indonesia Timur mulai dari Sumbawa, Flores, Timor, Sulawesi, Maluku hingga Papua.

Lebih jauh, berdasarkan data yang dimilikinya, terjadi pola pengulangan gempa setiap 30 bulanan. Misalnya, gempa terbesar Sumatera 26 Desember 2004 sebesar 9,1 SR atau 28 Maret 2005 sebesar 8,6 SR berulang pada 12 September 2007 dengan kekuatan 8,5 SR. Pada 9 Desember 2007 terjadi gempa dengan kekuatan 8,5 SR. Dan 16 hari 6 bulan 2 tahun sebelumnya, atau pada 28 Maret 2005, terjadi gempa berkekuatan 8,6 SR. "Hal ini pernah terjadi di Turki. Secara teknologi memang gempa tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi. Tapi bukan tidak mungkin hal itu (prediksi gempa) bisa kita lakukan lewat data statistik sehingga bisa meminimalisir korban," ujar Andi. (laporan, WA Pras)

 

Arsip Berita