Senin, 28 Mei 2012
SDAEM: Saluran Selokan Mataram Tertutup Lahar Dingin
Kamis, 27 Januari 2011 07:56
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 27/1 (SIGAP) - Selokan Mataram dan Van Der Wijck sejak beberapa waktu lalu diberlakukan sistem buka tutup karena saluran irigasi utama yang menjadi andalan sektor pertanian ini tertutup material lahar dingin di aliran Sungai Progo.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Sumber Daya Air, Energi dan Mineral (SDAEM) Kabupaten Sleman Widi Sutikno, Kamis saat meninjau aliran selokan Mataram, Kamis (27/1).

Menurut Sutikno, lahar dingin itu terairi melalui selokan Mataram dari Kali (sungai) Putih serta Kali Krasak membuat pintu utama didua selokan tersebut tersumbat. Kedua selokan ini berhulu di Bendungan Ancol yang terletak di Karang Talud, Kluwar, Kabupaten Magelang.

"Kali Putih dan Kali Krasak bertemunya di Kali Progo, banjir lahar dingin yang berkali-kali melanda sungai tersebut, membawa material pasir dan membuat saluran air ke Selokan Mataram dan Selokan Van Der Wijck mampet," katanya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, material lahar dingin tersebut sebenarnya tidak menutup seluruh pintu saluran selokan, namun jika tetap dipaksakan untuk dibuka sangat membahayakan.

Hal ini disebabkan aliran di Selokan Mataram dan Van Der Wijck menjadi saluran utama irigasi areal persawahan di Kabupaten Sleman, Bantul dan Kota Yogyakarta.

"Kalau tetap dibuka, maka kasihan para petani karena material lahar bisa masuk ke areal persawahan mereka sehingga sistem buka tutup," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Sleman Riyadi Martoyo mengatakan, ketika air Kali Progo tidak membawa material, maka saluran di bendungan Ancol tersebut dibuka.

"Namun, jika sewaktu-waktu ada aliran air membahayakan, maka terpaksa ditutup, sudah ada petugas yang berjaga di bendungan. Tadi, Bupati Sleman Sri Purnomo juga meminta agar dilakukan sistem buka tutup," katanya.

Riyadi mengatakan, lahan pertanian yang terdampak akibat mampetnya Selokan Mataram dan Van Der Wijck ini kurang lebih sebanyak 19.900 hektare yang tersebar di Sleman, Bantul dan Kota Yogyakarta.

"Lahan padi saat ini masih tertolong air hujan, nanti kalau musim kemarau, kami harapkan para petani bisa beralih menanam tanaman lain selain padi," katanya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, meski demikian untuk Sleman dipastikan tidak akan mengalami kekurangan bahan baku beras jika produksi padi di wilayahnya menurun karena hingga saat ini Pemkab Sleman surplus beras sebanyak 96 ribu ton.

"Meskipun nanti produksi padi menurun, itu tidak berpengaruh pada ketahanan pangan. Kami memiliki empat program unggul di bidang pertanian. Yakni swasembada beras, diversifikasi pangan, peningkatan kualitas produk serta peningkatan kesejahteraan petani," katanya.

Sebelumnya, Cekdam Kali Apu di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, hancur diterjang banjir lahar dingin Gunung Merapi sehingga akses jalan menuju desa itu putus total.

Berdasarkan informasi yang diterima SIGAP pada Selasa (25/1), jembolnya cekdam Kali Apu akibat banjir lahar Senin (24/1) sekitar pukul 16.30 WIB.

Cekdam itu merupakan akses jalur ekonomi masyarakat Desa Tlogolele menuju Selo Boyolali maupun sebaliknya.

Sarana penahan arus banjir lahar dingin itu jebol sepanjang sekitar 100 meter dengan kedalaman sekitar 60 meter.

Warga Desa Tlogolele dan Klakah saat ini tidak dapat lagi menyeberang sungai itu karena cekdam itu, saat ini tidak memungkinkan untuk penyeberangan terutama kendaraan.

Warga yang hendak menyeberang cekdam itu dengan jalan kaki juga cukup kesulitan. Mereka mencari jalur lain untuk menyeberanginya. (laporan ari prahasta/ant)

 

Arsip Berita