Senin, 28 Mei 2012
BI: Pertumbuhan Ekonomi NTB Dipengaruhi Harga Tembaga
Rabu, 26 Januari 2011 05:24
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 26/1 (SIGAP) - Bank Indonesia (BI) menyatakan pertumbuhan ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 2010 yang mencapai 11,79% dipengaruhi faktor eksternal yakni perkembangan harga tembaga di pasar internasional.

Pemimpin Bank Indonesia (BI) Mataram Muhamad Junaifin pada acara Pertemuan Tahunan Perbankan Provinsi NTB 2011 di Mataram, Selasa (25/1) malam mengatakan, perekonomian daerah ini menunjukkan kinerja yang cukup menggembirakan.

"Masih berlangsungnya upaya pemulihan ekonomi global saat ini diyakini memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi NTB," katanya dalam acara yang dihadiri Wakil Gubernur NTB H Badrul Munir dan puluhan pengusaha dan pimpinan bank se-NTB.

Junaifin mengatakan, pencapaian pertumbuhan tersebut merupakan angka pertumbuhan ekonomi tertinggi sepanjang sejarah pertumbuhan ekonomi NTB.

Menurut Junaifin, tingginya angka permintaan global berhasil mendorong harga tembaga pada level tertinggi. Momentum tersebut dimanfaatkan pelaku usaha pertambangan untuk meningkatkan jumlah produksinya sehingga dapat memaksimalkan tingkat penjualan yang kemudian mendongkrak kinerja sektor pertambangan dan komponen ekspor NTB.

Pada sisi pengeluaran, kata Junaifin, pendorong pertumbuhan ekonomi NTB masih belum mengalami pergeseran, masih ditopang oleh kinerja sektor primer, yakni pertanian dan pertambangan, sedangkan kontribusi sektor sekunder (industri pengolahan) dan tersier (perdagangan, hotel dan restoran serta jasa) relatif stabil.

"Padahal di negara berkembang lainnya, sektor sekunder dan tersier terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Salah satu cara yang ditempuh dengan mengintegrasikan melimpahnya sumber daya alam, ketersediaan tenaga kerja dan teknologi yang didukung permodalan yang kuat," ujarnya.

Menurut Junaifin, untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan, Bank Indonesia Mataram bekerja sama dengan industri perbankan mengggerakkan sektor riil, antara lain sosialisasi produk perbankan, pembuatan buku model pembiayaan budi daya cabai rawit dan tembakau.

"Selain itu pemberian bantuan teknis kepada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan kapasitas dan akses perbankan," katanya.

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pusat dan NTB hingga semester I, laju perekonomian NTB meningkat hingga 13,99% atau sekitar 14%. Pertumbuhan ekonomi tersebut juga dibarengi dengan tingkat inflasi yang berhasil di tekan hingga 0,22%.

Kendati indeks pembangunan Manusia (IPM) NTB masih di urutan 32 secara nasional dan dikunjunginya NTB oleh menteri pemukiman dan daerah tertinggal  (PDT) di akhir tahun 2010 lalu bukan menjadi ukuran kalau keadaan NTB juga tertinggal dari segi ekonomi. (laporan rusman/ant)



 

Arsip Berita