Senin, 28 Mei 2012
BMKG Ingatkan Bibit Siklon Di Selatan Arafura
Jumat, 21 Januari 2011 08:30
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 21/1 (SGAP) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan telah munculnya sistem tekanan rendah di Teluk Carpentaria di utara Australia atau selatan Laut Arafuru, yang berpotensi menjadi bibit siklon tropis.

Kepala Bidang Informasi Meteorologi Publik BMKG, Prabowo di Jakarta, Jumat (21/1) mengatakan sistem ini cukup kuat menyedot angin dari segala penjuru, kalau tekanannya semakin rendah dan kecepatan angin di sana mencapai 35 knot atau 60-70 km/jam, sistem ini bisa berubah menjadi siklon.

Siklon tropis Vince yang muncul sebelumnya, lanjutnya, sudah meluruh dan berganti kemungkinan siklon lainnya.

Pada Desember 2010, Januari dan Februari 2011 matahari memang berada di selatan ekuator dan membuat laut selatan lebih panas dari laut utara dan menimbulkan tekanan rendah yang potensial menyedot massa udara dari berbagai tempat serta memunculkan pusaran badai atau siklon.

Pusaran yang bakal terbentuk tersebut, ujarnya, selain memicu angin kencang juga akan memunculkan pertumbuhan awan yang banyak, hujan lebat dan gelombang tinggi di kawasan selatan Papua, Nusa Tenggara, Jawa, Sulawesi bagian selatan, serta Maluku.

Sedangkan pembentukan awan yang tinggi di Sumatera lebih dipengaruhi oleh kondisi di Laut China Selatan yang menyebrang ke Semenanjung Malaya melewati Sumatera lalu berbelok dari barat laut ke tenggara, ujarnya.

Potensi gangguan cuaca yang perlu diwaspadai di Indonesia, menurut Prabowo, selain dari selatan ekuator, juga angin yang berasal dari utara ekuator, tepatnya dari Timur laut di utara Papua, Filipina, utara Sulawesi yang kemudian belok ke Laut China Selatan.

"Kecepatannya rata-rata sama dengan yang berasal dari selatan Ekuator, yakni sekitar 15-25 knot atau 20-40 km per jam," katanya.

Prabowo juga meminta masyarakat lebih mewaspadai cuaca pada akhir Januari dan awal februari yang merupakan puncak musim hujan di mana rata-rata curah hujan sekitar 300-400 mm per bulan atau di atas rata-rata bulan lainnya 200 mm.

Cuaca buruk ini selain dipengaruhi oleh kondisi musim hujan, juga dipengaruhi oleh masih aktifnya La Nina di Pasifik yang diprediksi sampai Maret 2011, ujarnya, sedangkan dipole mole di Samudra Hindia di selatan benua Asia, dalam kondisi belum aktif.

SIGAP mencatat, antisipasi terhadap iklim dan cuaca ekstrim yang diprediksi akan terjadi di Indonesia hingga Januari atau Februari 2011 akibat dampak pemanasan global.

Seluruh pemerintah daerah harus menyamakan persepsi mengatasi dampak iklim dan cuaca ekstrim yang belakangan ini sudah dirasakan oleh masyarakat luas. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita