Senin, 28 Mei 2012
Magelang: Bibit Waluyo Ingatkan Penambang Pasir Merapi
Jumat, 21 Januari 2011 06:19
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 21/1 (SIGAP) - Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo, mengingatkan warga yang menambang pasir hasil letusan Gunung Merapi agar menjaga lingkungan.

Bibit mengemukakan hal tersebut saat pencanangan pemulihan dampak bencana Merapi wilayah Jawa Tengah di Desa Banyuadem, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, di Magelang, Kamis (20/1). "Silakan pasir yang ada diberdayakan, tetapi jangan sampai merusak lingkungan," katanya.

Seperti diketahui, Pasca erupsi Merapi 2010, hampir setiap sungai yang berhulu di Gunung Merapi dipenuhi material lahar dingin berupa batu dan pasir.

Bibit mengatakan, penambangan pasir harus diatur secara baik, jangan menambang pasir di sekitar hulu atau hilir suatu jembatan karena akan membahayakan bangunan jembatan.

Sebelum erupsi 2010, katanya, dirinya telah mengimbau kepada para penambang jangan menambang pasir di kawasan hutan, tetapi kelihatannya mereka tidak menghiraukan.

"Karena warga tidak bisa memelihara alam dengan baik maka alam marah, Merapi meletus dan banjir lahar menerjang dan merusak sejumlah bangunan," katanya.

Dirinya mengatakan, warga boleh saja menambang pasir tetapi di alur sungai dan jangan di perkampungan atau kawasan hutan karena akan merusak lingkungan.

"Kalau pasir di alur sungai habis, penambangan harus dihentikan. Nanti pasti akan dapat pasokan lagi," katanya.

Pada kesempatan tersebut, Gubernur juga mengingatkan warga Srumbung untuk tetap membudidayakan tanaman salak secara baik agar cepat berbuah kembali setelah rusak tertimbun abu vulkanik Merapi.

"Masyarakat harus memelihara tanaman salak dengan baik, karena tanaman ini menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat," katanya.

Dirinya mengatakan, buah salak berasal dari Srumbung telah diekspor ke Singapura, China, dan Taiwan, namun dengan bencana erupsi Merapi beberapa waktu lalu ekspor berhenti karena tanaman salak hancur.

Bibit mengatakan, setelah masyarakat memangkas pelepah tanaman salak yang tertimbun pasir dan abu vulkanik seharusnya jangan terus membiarkan tanaman tersebut, tetapi tanah di sekitar tanaman harus digemburkan.

Sementara itu, Kepala Dinas Cipta Karya provinsi Jawa Tengah, M Tamzil, Kamis (20/1) mengataka, pemprov mengusulkan dana rehabilitasi dan rekonstruksi untuk korban bencana erupsi Gunung Merapi sebanyak Rp582 miliar kepada pemerintah pusat.

Menurut Tamzil, dana tersebut untuk rehabilitasi dan rekonstruksi korban bencana Merapi di Kabupaten Boyolali, Klaten, dan Magelang.

"Usulan dana tersebut khusus untuk korban dampak erupsi Merapi, belum termasuk dampak banjir lahar dingin," katanya. (laporan rusman/ant)


 

Arsip Berita