Senin, 28 Mei 2012
Mamuju: Petani Kakao Akan Beralih Tanam Jahe
Rabu, 19 Januari 2011 00:00
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 19/1 (SIGAP) - Petani kakao Mamuju, Sulawesi Barat, akan beralih tanam jahe karena kecewa kepada Pemkab Mamuju yang tidak memberikan perhatian melalui kegiatan gerakan nasional peningkatan produksi dan mutu kakao yang dicanangkan sejak 2008.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Mamuju, Ahmad Ikhsan Sarif di Mamuju, Senin (17/1) mengatakan, sejumlah petani kakao sangat kecewa karena program gerakan peningkatan produksi dan mutu kakao (Gernas pro Kakao) tidak tersalurkan secara adil sehingga kebanyakan mulai melirik untuk menanam jahe untuk menopang ekonomi petani di Mamuju.

Menurut Ahmad, dirinya selama ini banyak menerima keluhan para petani terkait bantuan gernas pro kakao yang disalurkan secara tidak adil. Bahkan menurutnya, kebanyakan petani hingga kini belum sama sekali tersentuh program nasional tersebut sehingga mengakibatkan ratusan tanaman kakao yang tua tak lagi produktif. "Mestinya, tanaman ini diremajakan sesuai dengan apa yang menjadi sasaran program gernas," ungkapnya.

Karena itu, kata Ahmad Ikhsan, kegiatan gernas yang digelorakan pemerintah selama 3 tahun terakhir ini tidak berjalan maksimal yang hanya diuntungkan oleh sebahagian petani yang memiliki kedekatan emosional dengan pejabat pemerintah di Pemkab Mamuju.

"Anggaran gernas yang dikucurkan oleh pemerintah pusat bernilai miliaran rupiah dan dana sharing APBD tidak mengakomodasi seluruh petani kakao di Mamuju bahkan Sulbar sekalipun. Buktinya, petani yang ada di zona I Mamuju atau pada empat kecamatan yakni kecamatan Mamuju, Simboro, Tappalang Barat dan Kecamatan Tappalang nyaris tidak tersentuh secara maksimal," paparnya.

Ahmad menjelaskan, petani kakao di daerah itu mulai tidak termotivasi mengembangkan tanaman kakao dan berencana beralih mengembangkan tanaman jahe karena sesuai dengan kondisi lahan.

"Komoditi jahe sangat cocok dengan kondisi lahan di daerahnya. Makanya, kami berencana ke dinas perkebunan untuk menyiapkan bibit tanaman jahe untuk dikembangkan petani di empat kecamatan ini," ungkapnya.

Dirinya menambahkan, jika petani benar mengembangkan tanaman jahe, maka pihaknya akan menfasilitasi dengan melakukan kerjasama dengan perusahaan jamu di Pulau Jawa yang memang membutuhkan tanaman jahe sebagai bahan baku untuk produksi jamu tersebut.

SIGAP mencatat, pengembangan jahe skala luas sampai saat ini perlu didukung dengan upaya pembudidayaannya secara optimal dan berkesinambungan. Untuk mencapai tingkat keberhasilan budidaya yang optimal diperlukan bahan tanaman dengan jaminan produksi dan mutu yang baik serta stabil dengan cara menerapkan budidaya anjuran.

Adanya penolakan ekspor jahe Indonesia di negara tujuan terutama Jepang, karena tingginya cemaran mikroorganisme, mengakibatkan anjloknya pendapatan petani jahe. Hal ini perlu segera diantisipasi dengan menerapkan budidaya anjuran terbaik diantaranya dengan penggunaan bahan tanaman sehat yang berasal dari varietas unggul. Selain itu, karena kualitas simplisia bahan baku industri hilir ditentukan oleh proses budidaya dan pascapanennya, maka pembakuan standar prosedur operasional (SPO) budidaya jahe dibuat guna mendukung GAP (Good Agricultural Practices).

Seperti diketahui, jahe merupakan salah satu komoditas ekspor rempah-rempah Indonesia, disamping itu juga menjadi bahan baku obat tradisional maupun fitofarmaka, yang memberikan peranan cukup berarti dalam penyerapan tenaga kerja dan penerimaan devisa negara. Sebagai komoditas ekspor dikemas berupa jahe segar, asinan (jaheputih besar), jahe kering (jahe putih besar, kecil dan jahe merah), maupun minyak atsiri dari jahe putih kecil (jahe emprit) dan jahe merah.

Volume permintaan akan jahe terus meningkat seiring dengan permintaan produk jahe dunia serta makin berkembangnya industri makanan dan minuman di dalam negeri yang menggunakan bahan baku jahe. Pada tahun 1998, ekspor jahe Indonesia mencapai 32.807 ton dengan nilai nominal US $ 9.286.161. Tahun 2003 turun menjadi 7.470 ton dengan nilai US $ 3.930.317 karena mutu yang tidak memenuhi standar. Namun permintaan jahe mengalami peningkatan setiap tahun. Kondisi ini di Indonesia, direspon dengan makin berkembangnya areal penanaman dan munculnya berbagai produk jahe. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita