Senin, 28 Mei 2012
BP Batam: Kota Batam Terancam Krisis Air Pada 2013
Selasa, 18 Januari 2011 04:40
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 18/1 (SIGAP) - Kepala Bagian Humas Badan Pengusahaan (BP) Batam Dwi Djoko Wiwoho di Batam, Senin (17/1) mengatakan, Kota Batam terancam krisis air bersih pada 2013 jika pemerintah tidak segera mengoperasikan waduk baru.

"Karena itu, kami mempercepat pengerjaan waduk di Tembesi pada tahun ini," kata Dwi Djoko.

Pada 2013 jumlah penduduk Batam diperkirakan mencapai 1,5 juta orang, sedangkan persediaan air hanya mampu untuk memasok sekitar 1 juta penduduk.

Dwi Djoko mengatakan, pembangunan Waduk Tembesi baru akan dilanjutkan April-Mei 2011 menunggu persetujuan Kementerian Keuangan.

"Sebetulnya sudah disetujui anggarannya, namun tetap harus ke Kementerian Keuangan, yang akan menilai apakah ini cukup penting," kata dia.

Meski begitu, dirinya menyatakan optimistis Kementerian akan menyeujui pembangunan Waduk Tembesi mengingat sangat dibutuhkan warga.

Menurutnya, bila pengerjaan waduk selesai 2012, penampung air itu baru akan bisa digunakan pada 2014. "Butuh waktu dua tahun sampai waduk bisa dioperasikan," kata Dwi Djoko.

Seperti diketahui Waduk Tembesi merupakan waduk buatan dengan sistem desalininasi, penetralisasi air laut menjadi tawar.

"Air laut kami tampung kemudian air hujan masuk, dan air asin dikeluarkan melalui katup pipa yang kami bangun di bawahnya," katanya menjelaskan.

Bila sudah jadi, waduk buatan itu memiliki debit air mencapai 600 liter per detik dan diharapkan mampu memasok kebutuhan air warga.

Selain Waduk Tembesi, BP Batam juga menyiapkan waduk buatan di Pulau Rempang untuk mengantisipasi krisis air di Batam dan perluasan kota ke pulau pesisir.

"Kalau di Rempang sudah jadi. Namun, belum ada pipa yang menghubungkan ke arah Batam," katanya.

Dirinya mengatakan penyambungan pipa dari Pulau Rempang memungkinkan bila kebutuhan air di pulau utama semakin meningkat.

SIGAP mencatat, air bersih merupakan kebutuhan pokok manusia dan kehidupan yang jumlahnya sangat terbatas. Hingga saat ini, air belum bisa digantikan oleh bahan lain. Sayangnya, jumlah ketersediannya sangat terbatas, apalagi untuk bisa mencukupi kebutuhan tujuh miliar penduduk bumi ini.

Secara umum, Indonesia memiliki potensi air tawar sebesar 1.957 miliar meter kubik/tahun. Dengan total populasi saat ini mencapai 228 juta jiwa, jumlah air tawar tersebut setara dengan 8.583 meter kubik/kapita/tahun. Jumlah tersebut berada di atas nilai rata-rata dunia, yaitu 8.000 meter kubik/kapita/tahun (Bappenas, 2006). Namun, ketersediaan air ini sangat bervariasi, baik antarwilayah/kawasan maupun antarwaktu.

Dari jumlah tersebut, hampir 87% di antara potensi aliran air permukaan umumnya terkonsentrasi di Pulau Kalimantan, Papua, dan Sumatra. Sisanya tersebar secara tidak merata di Jawa-Madura-Bali, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan wilayah lainnya. Pulau Jawa yang memiliki luas kurang dari 7% dari total luas daratan Indonesia dan dihuni oleh 65% (148 juta jiwa) dari total penduduk Indonesia hanya memiliki lebih dari 4,5% dari total cadangan air tawar nasional. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita