Senin, 28 Mei 2012
BPS: Penduduk Miskin Bali Lebih Rendah Dari Nasional
Jumat, 14 Januari 2011 06:54
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 14/1 (SIGAP) - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali I Gede Suarsa di Denpasar, Jumat (14/1) mengatakan, masyarakat yang masuk katagori miskin di Bali hingga kini masih tercatat 174.900 jiwa atau 4,88 persen dari jumlah penduduk, jauh lebih kecil dibanding angka kemiskinan secara nasional yang mencapai 14,15%.

"Tingkat kemiskinan di Bali itu persentasenya berkurang dibanding 2009 yang tercatat 181.700 jiwa atau 5,14 persen, juga lebih rendah dibanding angka kemiskinan nasional pada waktu yang sama, yang tercatat 14,15 persen," katanya.

Dirinya mengatakan, taraf hidup masyarakat Bali tergolong relatif lebih baik dibanding tingkat kesejahteraan rata-rata masyarakat Indonesia.

Demikian pula terkait dengan pembangunan manusia, kemiskinan dapat dikatakan sebagai cerminan dari ketidakberhasilan dalam membangun manusia seutuhnya.

"Kemiskinan yang terjadi sebagai implikasi dari ketidakmampuan untuk mendapatkan nafkah secukupnya dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dalam kehidupan sehari-hari," ujar Gede Suarsa.

Kemiskinan mempunyai kaitan yang erat dengan dengan tingkat pendidikan yang memadai, sehingga kemampuan untuk memperoleh pekerjaan menjadi sangat terbatas. Demikian pula faktor kesehatan secara otomatis tidak dapat dipertahankan secara maksimal.

Kondisi Bali, menurut Suarsa, menunjukkan kinerja pembangunan dengan tingkat pencapaian yang cukup positif, terutama dalam menurunkan angka kemiskinan.

Bali dalam mengentaskan masalah kemiskinan, menurut Kabag Publikasi dan Dokumentasi Biro Humas dan Protokol Pemprov Bali I Ketut Teneng, pada 2010 menempati urutan kedua tingkat nasional setelah DKI Jakarta, atau naik peringkat dari tahun 2009 yang menempati posisi ketiga.

Upaya penuntasan orang miskin di Bali dalam tahun 2009 lebih tinggi dari target yang dibebankan pemerintah pusat hanya 6.360 orang, sementara pencapaian 6.790 orang.

Terjadinya kemiskinan di Bali, menurut Ketut Teneng akibat tragedi bom Bali 2002 dan disusul 2005. Tragedi kemanusiaan tersebut mengakibatkan banyak warga yang kehilangan sumber pendapatan.

Pada sisi lain beban biaya untuk kebutuhan hidup, termasuk masyarakat yang terlanjur mencicil rumah maupun sepeda motor mengakibatkan semakin banyaknya penduduk miskin.

Pemerintah bersama seluruh dunia usaha dan pelaku ekonomi melakukan berbagai upaya untuk memulihkan sektor pariwisata, yang kemudian berangsur-angsur kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali membaik.

Bersamaan dengan itu, lanjut Ketut Teneng, jumlah orang miskin juga berangsur-angsur menurun dari 231.900 jiwa 2004 menjadi 228.400 jiwa tahun 2005 atau berkurang 3.500 orang.

Namun, terulangnya tragedi bom Bali pada 2005, telah mengakibatkan jumlah penduduk miskin meningkat dari 243.500 jiwa tahun 2005 menjadi 258.600 orang tahun 2006 atau bertambah 15.100 orang.

Pemprov Bali bekerja keras memulihkan sektor pariwisata untuk memperbaiki perekonomian Bali dan penduduk miskin berangsur-angsur dapat dikurangi hingga menjadi 229.100 jiwa pada 2007.

Demikian pula 2008 berhasil ditekan menjadi 215.700 jiwa atau berkurang 11,400 jiwa, hingga kemudian menjadi 181.700 jiwa pada 2009 atau berkurang 36.000 jiwa.

Hingga saat ini masyarakat kurang mampu itu masih tercatat 174.930 orang atau 4,88% dari jumlah penduduk. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita