Senin, 28 Mei 2012
Pacitan: Puluhan Hektare Cabai Diserang Hama
Rabu, 12 Januari 2011 13:45
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 12/1 (SIGAP) - Puluhan hektare tanaman cabai di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, diserang hama patek yang melanda sejumlah kawasan di daerah tersebut, sehingga sejumlah petani terpaksa melakukan panen dini.

"Kalau tidak segera dipanen, tanaman cabai kami bisa mati membusuk," kata Miswandi, petani asal Desa Bandar, Kecamatan Bandar, Rabu (12/1).

Belum ada konfirmasi resmi dari pihak dinas terkait mengenai luas areal pertanian cabai yang terserang hama patek. Informasi sementara, kerusakan tanaman sejauh ini banyak terjadi di desa-desa di Kecamatan Bandar dan Kebonagung.

Namun jika menilik dampak serangan hama "mematikan" itu di Desa Bandar yang bisa mencapai belasan hektare, diperkirakan luas kerusakan sebenarnya lebih besar lagi.

Menurut Miswandi, tanaman cabai yang terserang hama patek biasanya bisa dilihat dari fisiknya. Mula-mula pada batang dan daun yang terlihat layu, lalu daun dalam beberapa hari akan rontok dengan batang tanaman mengering sebelum akhirnya mati.

Saat dicabut, di bagian akar biasanya terjadi pembusukan. Untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut, Miswandi dan para petani lainnya menyemprotkan obat antihama atau menggunakan insektisida.

Untuk tanaman yang terlanjur mati akan dibabat dan dipendam. "Dulu, setiap hektare tanaman cabai kami bisa memanen hingga kisaran 1,5-2 ton. Sekarang setelah serangan hama ini, jumlah panenan turun drastis hingga 50 persen lebih," ujarnya.

Selain di Desa Bandar, serangan hama serupa juga melanda sejumlah lahan pertanian cabai di desa-desa lain di luar Kecamatan Bandar. Diperkirakan, luas kerusakan tanaman mencapai puluhan hektare.

Di Kecamatan Kebonagung saja, informasi sementara dari sejumlah petani, luas lahan pertanian cabai yang terjangkit wereng atau hama patek mencapai belasan hektare.

Kondisi tersebut memaksa para petani cabai setempat melakukan panen lebih awal. Upaya itu cukup berhasil dalam menekan dampak kerugian meskipun harga cabai menjadi jatuh dibandingkan dengan harga cabai di pasaran.

"Pada kondisi normal, harga perkilogram mencapai Rp40 ribu, tetapi sekarang turun menjadi Rp35 ribu/kilogram. Nilai itu malah jauh lebih rendah dari harga di pasaran yang masih di kisaran angka Rp80 ribu-Rp90 ribu/kilogramnya," ujar Purnomo, petani cabai lain di Desa Kebonagung.

Selain faktor hama, ratusan petani cabai di Kabupaten Pacitan maupun daerah-daerah lain di sekitarnya juga telah menderita kerugian besar akibat cuaca ekstrem yang melanda selama beberapa bulan terakhir.

Sebagian besar petani bahkan banyak yang "gulung tikar" karena tanaman cabai mereka akhirnya membusuk karena terus-menerus diguyur hujan.

Dalam catatan SIGAP, penyakit antraknosa atau patek pada tanaman cabai disebabkan oleh Cendawan Colletotrichum capsici Sydow dan Colletotrichum gloeosporioides  Pens.

Penyakit antraknosa atau patek ini merupakan momok bagi para petani cabai karena bisa menghancurkan panen hingga 20-90 % terutama pada saat musim hujan.

Cendawan penyebab penyakit antraknosa atau patek ini berkembang dengan sangat pesat bila kelembaban udara cukup tinggi yaitu bila lebih dari 80 rH dengan suhu 32 derajat celsius.

Hama ini pada biji dapat menimbulkan kegagalan berkecambah atau bila telah menjadi kecambah dapat menimbulkan rebah kecambah. Pada tanaman dewasa dapat menimbulkan mati pucuk, infeksi lanjut ke bagian lebih bawah yaitu daun dan batang yang menimbulkan busuk kering warna cokelat kehitam-hitaman. (Laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita