Senin, 28 Mei 2012
Dewan Riset: Musim di Maluku Tak Menentu
Rabu, 12 Januari 2011 06:53
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 12/1 (SIGAP) - Ketua Dewan Riset Daerah, Augy Syahailatua Musim di Ambon, Rabu (12/1) mengatakan, musim di Maluku mulai tidak menentu akibat terjadinya perubahan iklim.

“Sekarang ini musim di Maluku sudah tidak terjadi sesuai dengan jadwalnya. Ini dampak dari perubahan iklim yang tidak menentu,” katanya.

Syahailatua mencontohkan, siklus musim timur yang harusnya terjadi antara April hingga Juni, sekarang mulai lebih awal, bahkan waktunya lebih pendek dari biasanya.

Dirinya mencontohkan, di tahun 2009 misalnya, sama sekali tidak ada musim timur di Maluku.

Lebih lanjut Syahailatua yang juga kepala Balai Konservasi Biota Laut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ambon mengatakan, musim pancaroba yang seharusnya berlaku mulai Januari atau Februari, kini terjadi pada Desember.

“Kita bisa merasakannya dengan sering turunnya hujan dan angin kencang yang terjadi pada Desember 2010,” katanya.

Namun, lanjut Syahailatua, perubahan iklim yang mengakibatkan ketidaknormalan musim ini belum memberikan dampak besar, tetapi harus diwaspadai karena sedikit demi sedikit akan menimbulkan cuaca ekstrim yang tidak terprediksikan dan menyebabkan bencana alam.

Syahailatua mengharapkan adanya informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengenai tekanan dan suhu udara yang terjadi setiap saat di Maluku. "Agar bisa kami amati dan pantau terus-menerus,” katanya.

Syahailatua juga mengatakan, musim dan cuaca yang tidak menentu sangat berpengaruh bagi masyarakat kecil, khususnya petani dan nelayan karena musim tanam dan waktu melaut terganggu.

“Petani di desa-desa akan susah memprediksikan kapan musim tanam apabila cuaca tidak menentu. Hasil panennya juga mungkin tidak sebagus biasanya,” katanya.

Dirinya menambahkan, dampak yang cukup menguntungkan dari perubahan iklim adalah daerah-daerah kering bisa mendapatkan lebih banyak air dari sering turunnya hujan, tetapi apabila manajemen airnya tidak diatur dengan baik maka besar kemungkinan bisa terjadi bencana.

Menurut Syahailatua, sebanyak 90% wilayah Maluku adalah laut, maka perubahan iklim harus diwaspadai terutama pada pulau-pulau kecil. "Kawasan pemukiman masyarakat di pesisir pantai juga harus diawasi, karena apabila sering terendam saat air laut mengalami pasang tinggi dalam satu bulan sekali, maka lama kelamaan perendaman itu akan permanen,” kata Syahailatua.

Sementara itu berdasarkan pantuan SIGAP, Kerugian akibat angin puting beliung yang melanda warga Desa Ketewel, Kabupaten Gianyar, Bali, Selasa (11/1) malam diperkirakan mencapai Rp188.350.000.

Kepala Bagian Publikasi dan Dokumentasi Pemprov Bali I Ketut Teneng di Denpasar, Rabu (12/1) mengatakan, hasil identifikasi tersebut mencatat sebanyak 37 rumah rusak, dua pura roboh.

Dinas Sosial Provinsi dan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Bali sudah turun ke lapangan untuk melakukan berbagai pendataan kerusakan yang ada. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita