Senin, 28 Mei 2012
Medan: Ekspor Karet 2010 Capai 469.755 Ton
Selasa, 11 Januari 2011 09:32
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 11/1 (SIGAP) - Volume ekspor karet Sumatra Utara hingga November 2010 mencapai 469.755 ton atau naik 18,30 persen dari periode sama tahun 2009 yang masih 397,087 ton, kata Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah.

"Kenaikan volume ekspor itu menggembirakan, apalagi kenaikannya semakin besar dibandingkan periode sama tahun di tahun 2007 dan 2008," katanya di Medan, Selasa (11/1).

Pada 2008 hingga November, volume ekspor karet Sumut sebesar 448.606 ton dan di 2007 sejumlah 463.433 ton.

"Ada kemungkinan volume ekspor karet bisa mencapai 500ribuan ton seperti di tahun 2006 dan 2007," katanya.

Pada 2006, volume ekspor karet Sumut mencapai 512.268 ton dan 2007 sebanyak 506.036 ton.

Menurut Edy, tahun 2011 ini, selain volume meningkat, nilai ekspor karet juga diperkirakan naik menyusul harga jual yang kecenderungannya terus menguat.

Harga karet di tahun 2010 hampir menembus 5 dolar AS per kg.

"Harga jual bahkan terus menguat hingga 2011, dimana untuk 10 Januari 2011 di bursa Singapura harga karet ditutup 5,17 dolar AS per kg," katanya.

Mengutip hasil proyeksi International Rubber Stady Group (IRSG), menurut Edy, harga karet pada tahun 2011 diperkirakan semakin naik atau bertahan menguat karena permintaan karet alam dunia itu masih lebih jauh tinggi dibandingkan produksi.

Pada 2011, permintaan diperkirakan mencapai 11,151 juta ton. sementara itu produksi komoditas tersebut diperkirakan hanya mencapai 10, 970 juta ton.

Pedagang karet di Sumut M Harahap menyebutkan, harga karet kadar kekeringan 100% di pabrikan berkisar Rp40.000-Rp41.000 per kg.

Meski permintaan banyak, tetapi masih saja kesulitan mendapatkan bahan olah karet (bokar) karena di tengah produksi yang masih tergolong sedikit, pedagang saling berebut membeli.

Untuk diketahui, dalam jangka panjang, timbulnya peningkatan konsumsi karet alam di negara-negara Asia disebabkan makin meningkatnya perkembangan industri ban dan komponen industri lainnya.

Konsumsi karet alam dan karet sintetik dunia yang pada tahun 2004 baru mencapai 20,03 juta ton akan meningkat mencapai 28,67 juta ton pada tahun 2020, diantaranya 11,9 juta ton karet alam.

Indonesia diharapkan dapat memasok 3,5 juta ton pada tahun 2020.

ISRG berpendapat bahwa pada jangka panjang diperkirakan terdapat kekurangan pasok yang tidak saja disebabkan oleh permintaan dunia yang meningkat dengan cepat tetapi juga 2 diantara 3 negara penghasil karet alam yaitu Malaysia dan Thailand yang merupakan negara dengan ekonomi yang berkembang cepat, mungkin menjadi generasi baru dari Newly Industrialized Countries (NICs), sehingga kedua negara akan meninggalkan agrobisnis karet.

Indonesia diharapkan dapat mengisi kekurangan pasok untuk kebutuhan dunia. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita