Senin, 28 Mei 2012
Magelang: Ribuan Korban Banjir Lahar Dingin Tempati Pengungsian
Selasa, 11 Januari 2011 07:07
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 11/1 (SIGAP) - Kepala Bagian Hubungan Masyarakat dan Protokol Pemkab Magelang Djanu Trepsilo, di Magelang, Selasa (11/1) mengatakan, sebanyak 4.187 warga korban banjir lahar dingin Gunung Merapi menempati beberapa lokasi pengungsian yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dengan dukungan logistik secara memadai.

Djanu menjelaskan, para korban banjir iru menempati beberapa lokasi pengungsian yang aman dari kemungkinan banjir susulan karena rumah dan desanya terendam material pasir dan batu.

Seperti diketahui, Pemkab Magelang telah membuka posko induk di rumah dinas bupati untuk penanganan bencana banjir lahar dingin Gunung Merapi.

Banjir lahar dingin pada Minggu (9/1) malam yang melewati sejumlah alur sungai yang berhulu di Merapi seperti Kali Putih, Pabelan, Senowo, Apu, dan Tringsing itu sebagai peristiwa terbesar setelah kejadian berulang kali sejak awal Desember 2010.

Balai Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, hingga saat ini menampung 1.005 pengungsi berasal dari Dusun Gempol, Seloiring, Tegalsari, dan Kadilogo, sedangkan tempat penampungan Desa Tanjung, Kecamatan Muntilan tercatat 1.200 pengungsi berasal dari Desa Sirahan, serta Balai Desa Sriwedari, Kecamatan Muntilan ditempati 700 pengungsi berasal dari Desa Sirahan.

Sedangkan Balai Desa Adikarto, Kecamatan Muntilan menampung 192 pengungsi berasal dari Dusun Sudisari, Panti Marhaen Prumpun 45 pengungsi dari Desa Prumpung, Balai Desa Ngaglik 648 pengungsi dari Dusun Ngemplak, Desa Ngrajek, Kecamatan Mungkid, Balai Desa Seloboro 69 siswa SMK Pertanian Kecamatan Salam.

Rumah Kepala Desa Kamongan, Kecamatan Srumbung ditempati 147 pengungsi, Rumah Kepala Desa Srumbung 67 pengungsi berasal dari Dusun Krajan, tenda lapangan Jamblangan, Kecamatan Srumbung 111 pengungsi dari Dusun Ngelorejo.

Berdasarkan informasi yang didapat, rumah hanyut sedikitnya 28 unit antara lain di Desa Jumoyo, Gondosuli, Adikarto, dan Prumpung, sedangkan rumah terendam material Merapi sedikitnya 94 unit antara lain di Desa Jumoyo, Adikarto, dan Prumpung

Djanu mengatakan, petugas terus menyalurkan bantuan logistik kepada mereka di berbagai lokasi pengungsian termasuk membuka dapur umum untuk melayani para korban.

Sebanyak 10 unit alat berat masing-masing berasal dari Dinas Bina Marga Jateng 8 unit dan Pemkab Magelang 2 unit diturunkan di berbagai lokasi untuk menyingkirkan timbunan material Merapi.

SIGAP mencatat, pascaerupsi Gunung Merapi 2010 masih menyisakan kegelisahan dan penderitaan bagi warga yang tinggal di sekitar aliran sungai berhulu di Merapi, terutama sekali saat turun hujan mereka selalu dihinggapi kecemasan akan ancaman bahaya banjir lahar dingin.

Salah satu aliran sungai yang berhulu di Gunung Merapi adalah Kali Putih di wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Aliran lahar dingin di sungai ini tidak hanya mengancam lahan pertanian dan permukiman, tetapi juga jalan utama yang menghubungkan Magelang-Yogyakarta.

Aliran Sungai Putih di Dusun Gempol, Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang memotong jalan raya Magelang-Yogyakarta.

Pascaerupsi, sedikitnya telah 3 kali banjir lahar besar hingga meluap ke jalan raya tersebut dan material berupa batu dan pasir menutup akses jalan.

Selama ini, Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak telah berupaya untuk menormalisasi sungai dengan mengeruk dasar sungai agar aliran banjir lahar berjalan lancar. Namun upaya tersebut belum mampu membuahkan hasil yang maksimal karena volume lahar yang datang jauh lebih besar dari kemampuan sungai.

Upaya penanggulangan bencana lahar dingin relatif sulit karena selama penanganan, bencana masih terus mengancam dan tidak bisa dipastikan kapan datangnya dan kapan akan selesai. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita