Senin, 28 Mei 2012
Dinkes: Sulteng Waspadai Penyakit DBD
Minggu, 09 Januari 2011 05:00
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 9/1 (SIGAP) - Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah (Dinkes Sulteng) mewaspadai merebaknya penyakit demam berdarah dengue (DBD) seiring dengan perubahan cuaca yang semakin tidak menentu. Demikian dikatakan Kabid Bina Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah, M Saleh Amin, di Palu, Sabtu (9/1).

"Perubahan cuaca yang tidak beraturan ini bisa menyebabkan timbulnya berbagai penyakit, termasuk DBD dan malaria," katanya

seperti diketahi, Demam Berdarah Dengue di Sulawesi Tengah selama 2010 tercatat sebanyak 1.900 kasus yang tersebar di 11 kabupaten/kota.

Menurutnya, angka ini tergolong tinggi, yakni 76,20 persen dari 100 ribu penduduk terjadi kasus DBD.

Dirinya mengatakan, pihaknya mengantisipasi merebaknya penyakit DBD dengan terus menyosialisasikan kepada masyarakat tentang pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

"Pola hidup bersih dan sehat ini dapat menghindarkan kita dari potensi terkena penyakit," katanya.

Selain itu, Saleh Amin mengatakan, gerakan 3M juga terus dilakukan, yakni menutup dan menguras tempat penampungan air secara berkala di samping mengubur barang-barang yang berpotensi bisa menjadi sarang nyamuk.

Dinkes Sulawesi Tengah juga telah membagikan kelambu insektisida kepada masyarakat secara gratis, yang jumlahnya lebih 800 ribu kelambu.

Meski jumlahnya masih terbatas, kelambu tersebut diharap mampu menekan tingginya kasus DBD.

Kelambu yang bahannya mengandung insektisida tidak disukai nyamuk dan aman bagi manusia.

Pemerintah juga melakukan pengasapan (fogging) di tempat-tempat yang dicurigai menjadi sarang nyamuk penyebab malaria dan demam berdarah dengue.

Saleh Amin juga mengimbau kepada masyarakat agar segera membawa anggota keluarganya ke Puskesmas jika diketahui menderita demam tinggi.

"Jangan sampai terlambat karena fatal akibatnya," kata Saleh Amin.

Sementara itu berdasarkan pantauan SIGAP, sejumlah daerah melakukan penanggulangan DBD. Di kawasan Kelurahan Waydadi Bandarlampung misalnya, Jumat (7/1), dilakukan pengsapan terbatas yang dilaksanakan oleh RS Imanuel untuk permukiman padat di sekitar rumah sakit swasta itu.

Sejumlah karyawan rumah sakit itu melakukan pengasapan gratis di rumah-rumah penduduk, termasuk di selokan dan pepohonan, untuk mencegah warga setempat terjangkit DBD dan chikungunya.

Berdasarkan catatan, penyebaran DBD tahun 2010 di Lampung memang belum sebanyak tahun 2007 dan 2008. Tahun 2007 wilayah Bandarlampung dan Metro masuk kejadian luar biasa (KLB) DBD, sementara seluruh kabupaten termasuk status waspada. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita