Senin, 28 Mei 2012
Dinkes: Masyarakat Boyolali Waspadai DBD Peroide Januari-Februari
Kamis, 06 Januari 2011 05:04
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 6/1 (SIGAP) - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Boyolali, dr. Yulianto Prabowo, di Boyolali, Rabu (5/1) mengatakan, Dinkes Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, meminta masyarakat mewaspadai serangan demam berdarah dengue (DBD) periode Januari-Februari 2011.

Pasalnya menurut Yulianto, jumlah kasus serangan DBD pada periode tersebut biasanya tertinggi dibandingkan dengan bulan-bulan lainya.

Menurutnya, selama Januari-Februari 2010 tercatat sebanyak 141 kasus serangan DBD di daerah itu dengan korban tewas satu orang.

Selain itu, katanya, kasus serangan DBD selama 2010 juga mengalami lonjakan cukup signifikan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Tercatat sepanjang 2010 terjadi 402 kasus, tujuh orang di antaranya meninggal dunia.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, serangan DBB pada 2010 hampir sama dengan kejadian 2007, yang tercatat dari 429 kasus dengan korban meninggal dunia mencapai 11 orang.

Dirinya menjelaskan, kasus DBD tertinggi di Boyolali terjadi di dua kecamatan yakni Banyudono dan Ngemplak, sedangkan serangan di daerah lainnya secara sporadis.

Dari 19 kecamatan di Boyolali, katanya, hanya Kecamatan Selo yang tidak ada kasus serangan DBD.

Oleh karena itu, katanya, masyarakat lebih waspadai, terutama setiap awal tahun karena berdasarkan data cukup tinggi serangan DBD.

Selain itu, katanya, data dari setiap puskesmas menyebutkan bahwa wilayah endemis DBD di Boyolali juga semakin meluas.

"Berdasarkan grafik serangan DBD pada tahun-tahun sebelumnya, puncak serangan DBD biasanya pada bulan Februari, setelah itu biasanya kasusnya mengalami penurunan," katanya.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Boyolali, Muh Basuni, mengatakan, pihaknya meminta kepada dinas terkait menyosialisasikan pentingnya kewaspadaan terhadap DBD karena setiap awal tahun merupakan puncak serangan penyakit itu.

Menurut Basuni, sudah ada pemetaan daerah endemis DBD di Boyolali sedangkan instansi terkait tinggal menyosialisasikan kepada masyarakat baik di tingkat rukun warga maupun rukun tetangga setempat.

"Jika tanpa melibatkan warga setempat, antisipasi penanganan DBD tidak akan berhasil," katanya.

Dirinya mengatakan, penanganan terhadap serangan DBD perlu penyadaran warga agar lebih aktif menjaga lingkungan masing-masing melalui gerakan pemberantasan sarang nyamuk secara mandiri.

Dan dirinya mengharapkan, setiap keluarga di daerah endemis mendapatkan bantuan abate secara gratis untuk membasmi jentik nyamuk.

Sementara itu, berdasarkan pantauan SIGAP, Dinas Kesehatan Kota Semarang akan mengoptimalkan penanggulangan penyakit demam berdarah dengue (DBD) pada 2011 mengingat jumlah penderita selama 2010 cukup tinggi.

"Jumlah penderita DBD pada 2010 mencapai lebih dari 5.000 orang, kami beharap tahun ini jumlah penderita menurun," kata Kepala Dinkes Kota Semarang, Niken Widyah Hastuti, di Semarang, Rabu (5/1).

Menurutnya, upaya penanggulangan DBD akan dioptimalkan dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Semarang 2011 terkait hal itu yang mencapai Rp2,1 miliar.

Dirinya juga menyebutkan, dana penanggulangan penyakit DBD di Kota Semarang 2011 mencapai Rp2,165 miliar, Rp1,5 miliar di antaranya untuk program penanggulangan dan pencegahan penyakit (P2P).

"Sisanya untuk program-program lain terkait DBD, seperti sosialisasi pencegahan penyakit dan pembuatan pamflet sebagai upaya menyadarkan masyarakat terhadap DBD," katanya. (laporan rusman/ant)



 

Arsip Berita