Senin, 28 Mei 2012
Magelang: 70 Rumah Di Jumoyo Terendam Lahar Merapi
Rabu, 05 Januari 2011 04:29
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 5/1 (SIGAP) - Kepala Kesbangpolinmas dan Penanggulang Bencana Kabupaten Magelang, Eko Triyono, di Magelang, Selasa (4/1) mengatakan, sebanyak 70 rumah di Dusun Gempol, Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, terendam material lahar dingin Gunung Merapi menyusul terjadi banjir lahar dingin di Sungai Putih pada Senin (3/1) malam.

Eko menjelaskan, akibat luapan banjir lahar dingin tersebut sebanyak 70 rumah di Dusun Gempol tertimbun material setinggi 1 hingga 2 meter.

Selain 70 rumah tersebut, terdapat sejumlah rumah di pinggir aliran Sungai Putih mengalami hal yang sama, yakni di Dusun Sirahan 8 rumah dan Dusun Salakan 8 rumah.

Hingga Selasa (4/1) siang sejumlah warga Dusun Gempol berupaya memindahkan barang-barang rumah tangga yang masih bisa diselamatkan ke tempat yang lebih aman.

Lebih lanjut Eko mengatakan, kondisi rumah yang tertimbun tersebut sekarang tidak bisa digunakan. "Secara lisan kami telah melaporkan kondisi tersebut ke Provinsi Jateng dan mengusulkan agar hunian sementara untuk korban erupsi Merapi di Kecamatan Dukun yang kurang diminati masyarakat bisa dialihkan untuk korban lahar dingin yang memang membutuhkan," katanya.

Sebanyak 111 hunian sementara yang rencananya dibangun di Kecamatan Dukun, hingga saat ini baru dibangun 8 buah karena warga korban erupsi Gunung Merapi kurang berminat untuk menempatinya.

Dirinya mengatakan, kalau usulan pengalihan pembangunan hunian sementara tersebut disetujui, Pemerintah Desa Jumoyo siap menyediakan tanah bengkok yang aman dari bahaya lahar dingin untuk pembangunan hunian sementara tersebut.

Sementara itu, Ketua Komisi VIII DPR, Abdul Kadir Karding saat meninjau lokasi bencana lahar dingin di Jumoyo, mengatakan bisa saja pembangunan hunian sementara untuk korban erupsi Merapi dialihkan untuk korban lahar dingin.

"Kalau memang hunian sementara korban erupsi Merapi tidak terpakai, saya kira tidak ada masalah digunakan untuk korban lahar dingin ini. Hal itu bisa dimungkinkan. Saya akan koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kementerian Pekerjaan Umum," katanya.

Dirinya mengatakan, dari pada hunian sementara di Dukun tidak terpakai lebih baik digunakan untuk korban lahar dingin, selama memungkinkan dari sisi teknis anggaran.

Menurutnya, apa pun namanya, korban bencana lahar dingin Merapi ini harus ditangani secara cepat oleh siapa pun, baik oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana maupun Kementerian Pekerjaan Umum.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Subandrio di Yogyakarta, Selasa (4/1) mengatakan, potensi banjir lahar hujan material hasil erupsi Gunung Merapi yang sudah mengendap di seluruh sungai berhulu di gunung tersebut masih tetap tinggi dan akan berlangsung dalam waktu lama, bahkan hingga tahun depan.

Menurutnya, jumlah material vulkanik yang mengendap di sungai-sungai berhulu di Gunung Merapi hampir sama yaitu antara lima hingga 10 juta meter kubik. Total material vulkanik yang dimuntahkan Gunung Merapi selama fase erupsi diperkirakan mencapai 140 juta meter kubik.

Salah satu upaya untuk mengurangi risiko dampak banjir lahar hujan dari material erupsi Gunung Merapi adalah dengan menempatkan alat pemantau lahar di sungai-sungai berhulu di Gunung Merapi. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita