Senin, 28 Mei 2012
Kemensos Siapkan Penanganan Umum Antispasi Erupsi Bromo
Rabu, 05 Januari 2011 01:43
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 5/1 (SIGAP) - Menteri Sosial (Mensos) Salim Segaf Al Jufri, Selasa (4/1), usai pemaparan rencana kerja 2011 di Kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) Kesra di Jakarta mengatakan, Kementerian Sosial (Kemensos) sudah menyiapkan penanganan secara umum untuk mengantisipasi bencana akibat erupsi Gunung Bromo di Provinsi Jawa Timur.

Mensos menjelaskan, penanganan secara umum tersebut di antaranya dengan langkah-langkah tanggap darurat berupa penyediaan stok cadangan beras dan kebutuhan lainnya yang sudah dimiliki setiap daerah termasuk Jawa Timur.

Di setiap kabupaten dan kota, stok persediaan beras yang tersedia sebanyak 100 ton yang sewaktu-waktu dapat dikeluarkan oleh bupati/wali kota jika dibutuhkan untuk korban bencana alam.

Seperti diketahui, Gunung Bromo mulai erupsi sejak 27 November 2010 setelah perubahan status dari Siaga menjadi Awas pada 23 November 2010 dan diturunkan lagi.

Namun, intensitas letusan mulai mengalami penurunan tanggal 1 Januari 2011, setelah gunung tersebut sempat mengalami letusan strombolian atau lava pijar disertai suara gemuruh pada 30 Desember 2010.

Sementara itu, aktivitas kegempaan Gunung Bromo hingga Senin (3/1) masih meningkat dengan didominasi oleh getaran tremor dan intensitas visual erupsi masih tetap tinggi.

Meskipun statusnya masih berubah-ubah, masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Bromo diingatkan agar waspada kemungkinan terjadinya aliran lahar terutama jika terjadi hujan lebat.

Gunung Bromo memiliki ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut (mdpl), Gunung Bromo berada dalam 4 wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang.

Sebelumnya, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) masih akan mengkaji rencana pembukaan kembali objek wisata Gunung Bromo untuk wisatawan, menyusul penurunan aktivitas vulkanik gunung tersebut dalam beberapa hari terakhir.

Kepala Bagian Tata Usaha TNBTS Malang, Suwasto, Senin (3/1) mengatakan, dari rekomendasi Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan hasil pengamatan TNBTS dari Dusun Cemorolawang pada 1 Januari 2011, diketahui adanya penurunan aktivitas di Gunung Bromo.

"Dari pantauan terakhir, sudah tidak ada lagi semburan asap tebal dan mengandung pasir," kata Suwasto.

Dengan adanya penurunan aktivitas itu, TNBTS berencana membuka kembali kawasan objek wisata Gunung Bromo yang sebelumnya ditutup untuk wisatawan. "Tapi, kami masih harus mengkaji ulang kelayakannya," ujarnya. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita