Senin, 28 Mei 2012
Palembang: Daya Beli Petani Sumsel Semakin Membaik
Senin, 03 Januari 2011 09:01
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 3/1 (SIGAP) - Daya beli petani di Sumatera Selatan pada Desember 2010 semakin membaik yang dibuktikan dari nilai tukar petani provinsi itu mencapai nilai 107,78%.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, Haslani Haris, di Palembang, Senin (3/1) mengatakan, Nilai Tukar Petani (NTP) padi dan palawija di Sumsel pada Desember 2010 sebesar 118,23%, yang menunjukkan petani relatif sejahtera dibandingkan dengan tahun dasar 2007.

Selanjutnya NTP hortikultura pada Desember 2010 sebesar 117,76%, berarti tingkat kesejahteraan petani lebih baik dibandingkan tahun dasar 2007. Namun bila dibandingkan bulan sebelumnya NTP hortikultura bulan Desember turun 0,51%.

Sedangkan NTP tanaman perkebunan rakyat bulan Desember 2010 sebesar 90,26%, menunjukkan petani komoditas itu masih mengalami defisit cukup tinggi, namun bila dibandingkan bulan sebelumnya nilai tukar pekebun bulan Desember itu meningkat 0,13%.

Berikutnya NTP nelayan pada Desember 2010 sebesar 113,09%, bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya nilai tukar nelayan turun sebesar 0,17%.

Demikian juga halnya dengan nilai tukar peternak bulan Desember 2010 sebesar 106,42%, menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan peternak relatif lebih baik dibandingkan dengan tahun dasar 2007. Bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, nilai tukar peternak mengalami penurunan sebesar 1,36%.

Dikemukakannya, NTP yang dipantau setiap bulannya menunjukkan angka cukup berfluktuatif. Penurunan NTP pada umumnya terjadi ketika panen raya, namun naik kembali setelah waktu sesudahnya. Dan termasuk ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan, seperti menaikkan harga bahan bakar minyak berdampak terhadap naiknya berbagai barang kebutuhan di masyarakat.

Sementara kenaikan NTP pada umumnya disebabkan karena harga komoditas hasil tanaman bahan makanan maupun hasil tanaman perkebunan rakyat naik.

Meskipun demikian, lanjut Haslani Haris, fluktuasi harga komoditas konsumsi rumahtangga dan biaya produksi serta penambahan barang modal juga mempengaruhi tinggi rendahnya NTP.

Menurutnya, berdasarkan pantauan harga-harga pedesaan di 46 kecamatan pada 11 kabupaten di Sumsel, NTP di bulan Desember 2010 sebesar 107,78%, menunjukkan daya beli petani secara umum lebih baik dibanding kondisi tahun dasar 2007 yang ditunjukkan dengan nilai NTP di atas 100%.

Sedangkan perkembangan indek harga konsumen (IHK) pedesaan selama beberapa bulan terakhir cenderung mengalami peningkatan, sehingga IHK bulan Desember 2010 sebesar 127,52%, sedangkan bulan sebelumnya 126,22%, berarti terjadi inflasi sebesar 1,03%.

Dirinya menambahkan, naiknya indek harga konsumen kelompok bahan makanan, diikuti pula oleh kelompok makanan jadi, kelompok pengeluaran perumahan, pengeluaran sandang, pengeluaran kesehatan, dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga masing-masing sebesar 0,96 kemudian 0,63, berikutnya 0,91, dan 0,01%.

Sedangkan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga tidak mengalami perubahan harga atau stail. Dan adanya kelompok kesehatan mengalami penurunan harga sebesar 0,01%.

Dirinya menambahkan, NTP adalah suatu indikator pengukur kemampuan tukar barang-barang (produk) pertanian dengan barang dan jasa diperlukan petani untuk konsumsi sendiri dan keperluan dalam memproduksi hasil pertanian.

Selanjutnya NTP diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indek harga dibayar (dalam persentase), katanya lagi.

Sebelumnya, Sumatera Selatan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada November 2010 lalu ditetapkan sebagai Provinsi terbaik kedua Nasional setelah Jawa Timur dalam program Pelayanan Terpadu Satu pintu (PTSP) Bidang Pelayanan dan Perizinan Penanaman Modal.

Menurut Menko Perekonomian Hatta Rajasa dalam sambutanya mengatakan pihaknya memberikan apresiasi yang tinggi kepada BKPM dan para Gubernur, walikota dan Bupati Penerima Penghargaan.  Karena Menurutnya ini adalah hasil kerja keras para Kepala Daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat khususnya pada sektor penanaman modal dan investasi. Karena Investasi akan mendorong laju pembangunan di daerah. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita