Senin, 28 Mei 2012
Boyolali: Warga Merapi Dirikan Pos Penanganan Bencana Lokal
Senin, 03 Januari 2011 05:26
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 3/1 (SIGAP) - Warga lereng Gunung Merapi di Desa Jrakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, telah mendirikan pos penanganan bencana lokal untuk antisipasi banjir lahar dingin di daerah tersebut.

Kepala Desa Jrakah, Tumar, di Boyolali, Minggu (2/1) menjelaskan, sebuah pos penanganan bencana didirikan di rumah warga setempat, untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu terjadi banjir lahar dingin dari puncak Merapi.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, banjir lahar dingin sering terjadi karena hujan deras disertai angin kencang sering turun di lereng Merapi.

Hal tersebut, katanya, membuat warga sekitar tidak dapat menyeberang sungai yang dilalui banjir lahar.

Warga yang tidak bisa menyeberang sungai karena banjir lahar dingin mendapat fasilitas menginap di rumah warga setempat yang dijadikan posko.

"Kami sudah tunjuk rumah warga jika ada orang yang menginap karena tidak bisa pulang terhalang banjir lahar dingin," katanya.

Dirnya mengatakan, cukup banyak warganya yang tidak dapat kembali ke rumah karena terhalang banjir seperti yang terjadi Minggu siang.

Hujan cukup deras pada Minggu siang mengakibatkan banjir lahar dingin di antaranya di Kali Apu, Belan, Ladon, Juweh, dan Trising.

"Hujan selama sekitar setengah jam saja, terdengar suara gemuruh, tanda terjadi banjir lahar dingin dari puncak Merapi," katanya.

Hujan deras juga menambah titik tanah longsor di jalur Boyolali-Magelang.

Longsoran tanah dari lereng Merbabu tersebut menutup badan jalan utama. Warga Minggu petang membersihkan longsoran tanah agar jalan dapat dilalui kendaraan.

"Banjir lumpur kembali menutup jalan utama Selo-Magelang, warga sekitar berupaya membersihkan sisa lumpur yang menutupi jalan," katanya.

Banjir lahar itu belum merusak infrastuktur sedangkan warga mewaspadai jika terjadi banjir susulan lebih besar dan menerjang jembatan.

Kepala Desa Tlogolele, Budi Harsono, mengatakan, banjir lahar dingin dapat mengisoliasi ribuan warga desa setempat.

Dirinya mengatakan, lokasi desanya terletak di antara dua sungai, yakni Kali Apu dan Kali Trising yang airnya berhulu di puncak Merapi, sehingga membuat mereka tidak bisa keluar desa.

Jika dua sungai tersebut banjir lahar dingin, katanya, warga tidak dapat menyeberang. Mereka tidak berani keluar rumah kalau sudah turun hujan.

Dirinya menjelaskan, 2 sungai yang mengapit Desa Tlogolele tersebut bertemu di Kali Pabelan yang jaraknya sekitar 10 kilometer.

Jika pendeteksi di Kali Pabelan berbunyi sangat keras, katanya, menandakan banjir sudah masuk ke sungai itu.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Jambi Sum Indra bersama warga Kota Jambi asal Klaten, Jawa Tengah berhasil mengumpulkan dana bantuan bagi korban letusan Gunung Merapi sebesar Rp20 juta lewat pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

Panitia Pelaksana Pagelaran Wayang Kulit, Agus Setyo Negoro saat dikonfirmasi di Jambi, Minggu (2/1) mengatakan, dana tersebut berhasil dikumpulkan terkait kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari HIV/AIDS Sedunia dan Malam Peduli Bencana Merapi.

"Penggalangan dana yang terkumpul usai pagelaran wayang sebesar Rp 20,2 juta. Bantuan ini akan kami peruntukan bagi saudara kita yang menjadi korban letuasan Gunung Merapi di Klaten dan sekitarnya," kata Agus.

Selanjutnya, bantuan itu disalurkan melalui Kepala Kejaksaan Muarojambi Rusman Widodo untuk diteruskan ke Kejaksaan Agung (Kejagung). Nantinya, lewat program sosial Kejagung yang dipimpin Wakil Kejagung Dharmono, bantuan itu langsung diserahkan kepada mereka yang membutuhkan. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita