Senin, 28 Mei 2012
Sultra: Untuk menambah Penghasilan Petani Konawe Berburu Bekicot
Senin, 03 Januari 2011 05:17
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 3/1 (SIGAP) - Sejumlah petani sawah di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) melakukan usaha sampingan dengan berburu bekicot di rawa dan areal persawahan dalam upaya meningkatkan penghasilan keluarga.

Menurut Ujang, petani sawah di Kecamatan Duriasi, Kabupaten Konawe, Minggu (3/1) mengatakan, bekicot atau keong mas ini dikumpulkan dengan jenis dan ukuran bervariasi. Kemudian dijual kepada pengusaha peternak dan petelur ayam, setiap kilogram dihargai Rp1.500-Rp2.000.

Ujang mengatakan, setiap orang dari kalangan anak-anak sekolah dan orang dewasa bisa menangkap dan mengumpulkan bekicot dari hasil tangkapan di rawa dan sawah antara 20 sampai 30 kilogram per hari.

Bekicot yang selama ini menjadi pengganggu tanaman padi sawah, dijual sebagai bahan baku alternatif untuk pembuatan pakan ternak.

Selama ini bekicot menjadi musuh petani karena hewan itu kadang merusak batang padi, padahal bila dikelola dengan baik justru memberi nilai tambah karena cocok untuk pembuatan pakan ternak.

Menurut Ujang, bekicot yang banyak dijumpai di lahan persawahan atau pada tanaman yang cukup basah mengandung protein yang cukup tinggi yakni sekitar 44 - 46,2 persen.

Apalagi disaat musim hujan tiba, habitat bekicot atau yang bisa disebut siput murbey mudah berkembang biak yakni dalam usia 35 hari, sudah bisa dipanen untuk campuran pakan ternak bagi kebutuhan makan ayam dan itik petelur.

Daging hewan bekicot itu, katanya, bisa digunakan sebagai pengganti tepung ikan dan kulitnya bisa menjadi pengganti tepung tulang. Selama ini Indonesia masih mengimpor bahan baku pakan ternak seperti tepung ikan dan tepung tulang yang mencapai ratusan ribu ton dalam setahun.

"Pemanfaatan pakan ternak dari bekicot sangat membantu kami meningkatkan pendapatan di luar hasil produksi padi sawah yang diperoleh setiap musim tanam," kata Mustafa, petani sawah dari kabupaten Bomaban.

Sementara Najib, salah seorang pengusaha peternak ayam potong di Kota Kendari mengatakan, selama ini pakan ternak yang diberikan pada ternak peliharannya berupa jagung giling dan konsentrat, namun saat ini ia mencampur pakan ternaknya dengan bekicot setelah terbukti dapat merangsang pertumbuhan ternak peliharaannya.

"Dengan tambahan protein bekicot itu, ayam potong yang biasanya baru bisa dipanen pada usia 30-35 hari, sudah bisa dipanen pada usia 28 hari dengan bobot badan lebih berat," katanya. (laporan rai prahasta/ant)

 

Arsip Berita