Senin, 28 Mei 2012
PVMBG: Intensitas Letusan Gunung Bromo Turun
Sabtu, 01 Januari 2011 13:50
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 1/1 (SIGAP) - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan intensitas letusan Gunung Bromo, Sabtu (1/1), berangsur menurun pascaletusan strombolian atau lava pijar disertai suara gemuruh dari kawah yang terjadi pada 30 Desember 2010.

Demikian dikatakan Kepala Bidang Pengamatan dan Penyelidikan Gunung Api PVMBG Indrasto saat dihubungi ANTARA.

Menurut Indrasto, letusan jenis strombolian menarik perhatian, dan tidak terlalu berbahaya. Letusan ini mengeluarkan sejumlah kecil lava yang menjulang setinggi 15 hingga 90 meter ke udara, dengan letupan-letupan pendek.

Lava cukup kental, sehingga tekanan gas harus terlebih dulu meningkat sebelum mampu mendesak material-material terbang ke udara. Ledakan-ledakan yang teratur pada letusan ini dapat menimbulkan bunyi dentuman seperti suara bom, namun letusannya relatif kecil.

Letusan strombolian, secara umum tidak menghasilkan aliran lava, namun sebagian lava mungkin akan menyertai proses letusan. Letusan ini juga mengeluarkan sejumlah kecil abu tepra.

"Seperti kembang api yang keluar dari kawah gunung menuju ke atas," katanya.

Selain itu, lanjut Indrasto, gempa tremor secara terus menerus masih terjadi dengan amplitudo antara 5-20 milimeter. "Ketinggian abu vulkanik menurun hingga 400 meter (sebelumnya ketinggiannya sampai 1.500 hingga 2.000 meter) dengan arah menuju timur laut," katanya.

Namun demikian, Indrasto mengatakan bahwa hujan abu masih terjadi di sekitar gunung Bromo tepatnya di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo yang berjarak sekitar 4-5 kilometer dari Gunung Bromo.

"Hujan abu masih terjadi, tapi sekarang mulai tipis tidak seperti hari-hari sebelumnya," ujarnya.

Hingga saat ini status Gunung Bromo diketahui masih siaga, namun pihak PVMBG masih belum bisa memastikan apakah gunung tersebut masih bisa aktiv lagi atau tidak. "Mudah-mudahan intensitas letusan di Gunung Bromo secepatnya menurun sehingga warga sekitar bisa beraktivitas seperti biasanya," ujarnya.

Sebelumnya, puluhan warga Desa Ngadirejo yang jaraknya sekitar 4-5 kilometer dari kawah Gunung Bromo pada 30 Desember sempat mengungsi karena khawatir letusan susulan akan terjadi lebih besar.

Warga tersebut sempat ditampung selama semalam di kantor Kecamatan Sukapura, hotel dan gedung sekolahan yang merupakan daerah aman dengan radius 15 Kilometer dari kawah Gunung Bromo.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menolak membeli binatang ternak milik warga di sekitar Gunung Bromo karena faktor keterbatasan anggaran dan tidak memiliki tempat penampungan yang memadai.

"Tidak mungkin pemerintah membeli sapi dan binatang ternak lainnya milik warga Bromo karena selain tidak ada dana untuk itu, pemerintah juga tidak memiliki tempat untuk menampung hewan ternak itu," kata Kepala Biro Humas dan Protokolo Pemprov Jatim, Gunarto, saat dihubungi dari Surabaya, Sabtu petang.

Sebelumnya, warga yang tinggal di sekitar lokasi bencana letusan Gunung Bromo mendesak pemerintah membeli binatang ternak mereka.

Namun menurut Gunarto, Pemprov Jatim memberikan solusi dengan memfasilitasi transaksi penjualan hewan ternak milik warga yang tinggal di sekitar gunung api berketinggian 2.392 meter dari permukaan air laut itu.

Pemerintah juga membantu proses pengangkutan 20 ekor sapi tersebut dari Desa Ngadirejo ke Probolinggo sebelum dibawa para pedagang ke beberapa daerah.

Biaya pengangkutan dari kandang sapi menuju lokasi transaksi hingga ke Probolinggo diambilkan dari dana penanganan bencana letusan Gunung Bromo yang totalnya mencapai Rp2,5 miliar.

Dana bencana Bromo telah diserahkan kepada Bupati Probolinggo, Hasan Aminuddin, dalam dua tahap. Tahap pertama dicairkan sebesar Rp1,5 miliar, saat tanggap darurat bencana Bromo diberlakukan sejak 24 November 2010.

Tahap selanjutnya, Gubernur Jatim menyerahkan langsung kepada Bupati Probolinggo sebesar Rp1 miliar di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pada 29 Desember 2010.

"Dana tanggap darurat Bromo itu diambilkan dari dana bencana `on call` yang dialokasikan dalam APBD 2010 sebesar Rp50miliar," kata Gunarto.(laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita