Minggu, 27 Mei 2012
Kediri: Stasiun KA Gagal Capai Target Pendapatan
Kamis, 30 Desember 2010 19:36
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 30/12 (SIGAP) - Stasiun Kediri, Jawa Timur, gagal mencapai target pendapatan tahun 2010 dengan tidak terealisasinya rencana pendapatan dari Rp19 miliar dengan hanya bisa terealisasi Rp16,7 miliar.

Wakil Kepala Stasiun KA Kediri, Eko Bekti Utomo, Kamis (30/12) mengemukakan gagalnya capaian target pendapatan itu disebabkan patokan yang sangat tinggi, menyebabkan manajemen sulit untuk mencapainya.

"Tahun ini, kami ditarget pendapatan yang sangat tinggi, sehingga kami jadinya masih sulit untuk memenuhi," ujarnya.

Untuk tahun 2009, Stasiun KA Kediri berhasil mencapai target pendapatan hingga Rp14 miliar. Nominal itu tidak jauh dari target yang ditetapkan dalam pembicaraan dengan DAOPS VII lalu.

Nominal itu berasal dari penjualan tiket Rp13,3 miliar ditambah dengan sewa kios dan parkir. Jumlah kios yang disewakan ada 60 petak yang masing-masing sewanya Rp2 juta per tahun.

"Kiosnya ada 60 petak yang masing-masing sewanya hanya Rp2 juta per tahun. Kami juga masih ada masukan pendapaan dari parkir," ujarnya.

Untuk saat ini, Eko mengaku pihaknya sudah berupaya sekuat tenaga untuk mengejar target pendapatan yang sudah ditetapkan untuk Stasiun KA Kediri tersebut.

Tambahan pendapatan dari menaikkan harga tiket untuk kereta eksekutif dan bisnis hingga 70% juga sudah dilakukan. Kebijakan itu diterapkan saat libur agama maupun nasional.

Dirinya mengatakan, untuk tiket kelas bisnis seperti Surya Kediri (Kediri - Pasar Senen) dari harga semula Rp140.000,00 per tiket pada saat liburan dinaikkan menjadi Rp250.000,00.

Sementara untuk eksekutif seperti Gajayana (Kediri - Pasar Gambir) harga tiket dipasang Rp400.000,00 per tiket, padahal harga normal berkisar Rp270.000,00.

"Ini memberikan kontribusi yang cukup untuk pendapatan stasiun. Tetapi, kebijakan menaikkan harga tiket itu diberlakukan saat musim liburan saja," katanya.

Selain itu, pihaknya juga sudah berupaya dengan memasang gerbong tambahan dengan harapan dapat menampung lebih banyak penumpang, sehingga untuk pendapatan juga terdongkrak.

Sayangnya, dari upaya - upaya tersebut belum bisa memenuhi target. Pihaknya hanya mengatakan, target yang diberikan sangat tinggi, sehinga sulit untuk capaiannya.

Namun, Eko juga mengatakan untuk tahun 2011 akan berupaya menambah pemasukan dengan adanya tambahan sewa kios baru. Diharapkan, dengan itu akan mampu memenuhi target pendapatan.

Sementara itu, manajemen PT Kereta Api Indonesia (KAI), Pada tahun 2010 ini, perusahaan plat merah ini menargetkan pendapatan sebesar Rp 7,3 triliun.

Hal itu dikatakan Dirut PT KAI, Ignasius Jonan kepada wartawan di Surabaya, Selasa (30/3). Target pendapatan Rp 7,3 triliun tersebut lebih tinggi dibanding penerimaan tahun 2009 yang mencapai Rp 4,7 triliun. Sedangkan pendapatan PT KAI tahun 2008 sebesar Rp 4,6 triliun. "Makanya, kami terus meningkatkan kinerja," katanya.

Menurut Ignasius, target pendapatan Rp 7,3 triliun diharapkan dari pelayanan angkutan yang dijalankan PT KAI. Untuk mencapai target sebesar itu bukan hal mudah. Selain menekan angka kebocoran, manajemen PT KAI segera melakukan sertifikasi ISO 9001 pada tiap restorasi di kereta api eksekutif.

Selain itu, PT KAI juga bakal menggenjot penerimaan dari angkutan petikemas yang telah beroperasi di sejumlah daerah, seperti Jakarta, Surabaya, dan kota lainnya. "Kami rencanakan PT KAI jadi basis angkutan petikemas di masa depan," tegasnya.

Program lain yang telah didesain manajemen PT KAI untuk mendongkrak pendapatan adalah menambah beberapa gerbong penumpang dan lokomotif. Sebab, selama 10 tahun terakhir ini gerbong dan lokomotif yang ada jumlahnya terus menurun.

PT KAI segera menambah 400 gerbong baru plus lokomotif selama lima tahun ke depan dengan nilai investasi Rp 5 triliun. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita