Minggu, 27 Mei 2012
Dinkes: DBD Lebih Diwaspadai Saat Curah Hujan Tinggi
Kamis, 30 Desember 2010 04:40
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 30/12 (SIGAP) - Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman Cahya Purnama, Kamis (30/12), meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap demam berdarah dengue (DBD) pada musim hujan, apalagi saat ini curah hujannya tinggi.

cahya Purnama mengatakan, masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap DBD dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk.

Dirinya juga mengingatkan bahwa puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Januari 2011.

Menurutnya, selama 2010 jumlah penderita DBD di Kabupaten Sleman sebanyak 572 orang, sedangkan pada 2009 sebanyak 551 orang, atau meningkat sebanyak 21 penderita.

"Peningkatan jumlah penderita DBD itu menunjukkan ancaman penyakit yang disebarkan nyamuk di Kabupaten Sleman masih tinggi," katanya.

Dirinya mengatakan, biasanya peningkatan jumlah penderita DBD terjadi pada Oktober hingga Mei, dan kemudian menunjukkan tren menurun.

Lebih lanjut Cahya mengatakan dengan curah hujan yang tinggi itu membuat nyamuk cepat berkembangbiak, karena banyak genangan air.

"Daerah endimis tinggi di Kabupaten Sleman meliputi Kecamatan Depok, Kalasan, Ngaglik, Sleman, Ngemplak, Gamping, Godean dan Mlati," katanya.

Dirinya mengatakan, upaya pencegahan yang paling efektif adalah Pemberasan Sarang Nyamuk (PSN) sehingga upaya ini harus terus disosialisasikan ke masyarakat.

"Selain itu juga kebiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), jika semua masyarakat sadar dengan dua kegiatan itu, angka penderita DBD pasti dapat ditekan sebab sama saja dilakukan `foging` kalau tidak diikuti dengan PSN dan PHBS," katanya.

Tanda-tanda awal orang yang terinfeksi DBD diantaranya panas badan tinggi yang tidak turun-turun, mual, muntah, perut merasa nyeri serta bisa ditandai bintik-bintik merah dan pendarahan melalui hidung.

"Jika merasakan tanda-tanda seperti itu agar segera mendapatkan pelayanan kesehatan, jangan sampai penanganannya terlambat karena dapat berakibat fatal yakni kematian," katanya. (laporan ari prahasta/ant)

 

Arsip Berita