Minggu, 27 Mei 2012
Bojonegoro: Pemkab Bebaskan Tanah Lokasi Pengungsi
Selasa, 28 Desember 2010 13:34
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 28/12 (SIGAP) - Pemkab Bojonegoro, Jatim, membebaskan tanah seluas satu hektare di Desa Sumberjo Kentong, Kecamatan Trucuk, yang akan dimanfaatkan untuk lokasi gedung pengungsi banjir luapan Bengawan Solo.

"Tanah yang dibebaskan nilainya hampir sekitar Rp1 miliar, uangnya sudah kami bayarkan kepada pemilik tanah, pekan lalu," kata Kepala Bagian Administrasi Perlengkapan Pemkab Bojonegoro, Nuzulul Hudaya, Selasa (28/12).

Dirinya menjelaskan, gagasan membangun lokasi gedung pengungsi tersebut, berawal dari banjir besar yang terjadi pada tahun 2008 lalu.

Pada banjir besar luapan Bengawan Solo pada waktu itu, ada ratusan titik pengungsi yang tersebar di sejumlah lokasi di Bojonegoro, sehingga petugas kesulitan menangani para pengungsi.

Berdasarkan kesepakatan dengan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) di Solo, Jateng, penanganan para pengungsi bisa dipusatkan dalam satu titik yang tidak jauh dari permukiman warga yang menderita banjir.

Caranya dengan membangun gedung pengungsi yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang biayanya ditanggung bersama Pemkab Bojonegoro, Pemprov Jatim dan Pemerintah Pusat.

Menurut dia, dipilihnya lokasi tanah untuk membangun gedung pengungsi di utara Bengawan Solo, karena korban banjir di bagian utara, jumlahnya cukup banyak. "Alternatifnya bisa juga selatan, hanya pembangunan gedung pada awal dipilih di utara Bengawan Solo," katanya menjelaskan.

Kapan gedung dibangun dan besarnya dana yang dibutuhkan, Nuzulul mengaku, tidak tahu pasti.

"Kala pembangunan gedung kita harapkan secepatnya, paling tidak 2011 ini harus sudah dimulai," katanya berharap. Dari rencana awal, gedung dilengkapi dapur umum, wc umum dan berbagai keperluan pengungsi lainnya, seperti pusat belanja.

"Kalau musim kemarau, gedung bisa dimanfaatkan untuk keperluan hajatan warga," katanya menambahkan.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo di Solo, Graita Sutadi membenarkan rencana pembangunan gedung pengungsi itu. Hal serupa juga direncanakan dibangun di daerah korban banjir Bengawan Solo di Tuban.

Pertimbangannya, lanjutnya, masyarakat korban banjir Bengawan Solo, harus bisa hidup berdampingan dengan bencana banjir, tanpa terganggu aktivitasnya. "Pembangunan gedung lokasi pengungsi merupakan salah satu penanganan korban banjir Bengawan Solo, disamping program pengendalian banjir Bengawan Solo lainnya," katanya menjelaskan

Seperti diketahui, Bengawan Solo mulai mengancam daerah hilir Jatim, Bojonegoro dan sekitarnya akibat hujan lokal di wilayah setempat. Ketinggian air mencapai 14,02 meter (siaga II), awal bulan lalu.

"Hujan yang terjadi di wilayah selatan juga mengakibatkan sejumlah desa di Kecamatan Dander diterjang banjir bandang," kata Kasi Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Bojonegoro, Sutardjo, kepada metro.

Menurut dia, hujan yang terjadi di wilayah selatan, mengakibatkan pemukiman warga Desa Sembung, Tapelan dan Bangilan, di Kecamatan Dander, diterjang banjir bandang. Ketinggian banjir berkisar setegah meter.

Selain itu, banjir juga merendam ratusan hektare areal tanaman padi di wilayah setempat, baik yang siap panen atau yang masih berusia sekitar sebulan.

Ketinggian air di wilayah tersebut pada Ahad ini mulai berangsur-angsur surut. Banjir dari wilayah selatan itu, masuk ke Bengawan Solo. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita