Minggu, 27 Mei 2012
Sleman: Tidak Ada Kenaikan Kemiskinan Akibat Merapi
Selasa, 28 Desember 2010 13:08
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 28/12 (SIGAP) - Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu menyatakan tidak ada peningkatan signifikan jumlah warga miskin di wilayah ini yang diakibatkan bencana letusan Gunung Merapi beberapa waktu lalu.

"Bencana letusan Gunung Merapi yang memporak-porandakan sejumlah wilayah di Sleman tidak berpengaruh pada jumlah warga miskin dan kami juga yakin tingkat perekonomian warga yang rumahnya hancur akan kembali pulih setelah masa pemulihan ini," kata Yuni Satia Rahayu, Selasa (28/12).

Menurut dia, pemerintah daerah saat ini terus berupaya untuk mendorong kebangkitan ekonomi masyarakat, khususnya mereka yang terkena dampak langsung erupsi Gunung Merapi.

"Kami terus mendorong masyarakat melalui pelatihan dan pembekalan ketrampilan untuk warga korban Merapi sehingga tinggal aplikasi di masyarakat dan dilakukan pendampingan," katanya.

Ia mengatakan, usaha, mikro dan kecil masyarakat di lereng Merapi juga sudah mulai bangkit dan ini juga didukung banyaknya pengunjung yang datang ke lokasi bencana yang diharapkan akan membangkitkan kembali roda perekonomian.

"Bahkan di lokasi yang semula bukan jadi objek wisata, sekarang sudah banyak peluang usaha untuk jualan makanan atau cinderamata. Di kawasan wisata Kaliurang juga terlihat mulai bangkit sedikit demi sedikit, saya yakin masyarakat sudah mulai bangkit," katanya.

Yuni mengatakan, dorongan untuk bangkit yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Sleman difokuskan pada pendampingan usaha, sedangkan stimulan yang diberikan berupa pemutihan pinjaman modal.

"Bagi pelaku usaha yang memiliki pinjaman modal diupayakan pemutihan, paling tidak `rescheduling` atau penjadwalan ulang," katanya.

Dirinya mengatakan, data kemiskinan terakhir 2010 tercatat sebanyak 65.157 Kepala Keluarga atau 22,98% dari jumlah kepala keluarga di Sleman yang mencapai 283.593 kepala keluarga.

"Terlepas dari bencana Merapi, kemiskinan menjadi isu sentral yang harus ditangani berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten maupun peran serta pihak swasta," katanya.

Secara terpisah Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik menyatakan wisata di Yogyakarta dan Jateng pasca-letusan Gunung Merapi akan lebih cepat dibanding pemulihan wisata pasca-bencana gempa bumi di Bantul, 2006.

Dikatakannya, bencana letusan Gunung Merapi tidak mengakibatkan fasilitas pariwisata rusak, hanya tertutup debu-debu vulkanik.

Jika debu dibersihkan, objek dan fasilitas wisata siap dikunjungi dan dipergunakan lagi, apalagi aktivitas Merapi telah normal.

Berbicara usai Internasional World Conference on Culture, Education & Science ' WISDOM 2010 di UGM, beberapa waktu lalu, dikatakan Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan lokasi wisata lainnya, hotel-hotel tidak ada debu lagi. Aktivitas Bandara Adisucipto telah normal.

"Kami telah menyiapkan berbagai even internasional pada 2011, sebagian penyelenggaraan di Yogyakarta, sebagian lainnya di Jakarta dan Bali. Itu bagian memulihkan wisata Yogyakarta," pungkasnya kepada Pikiran Rakyat. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita