Minggu, 27 Mei 2012
Pemprov Jatim: 25.000 Warga Bromo Menganggur Akibat Abu Vulkanik
Selasa, 28 Desember 2010 04:26
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 28/12 (SIGAP) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur membantu 25.000 lebih warga di kawasan Gunung Bromo yang menganggur akibat dampak abu vulkanik.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim Siswanto kepada ANTARA di Surabaya, Senin (27/12) mengatakan, ada 3 kecamatan yang warganya kehilangan pekerjaan karena abu vulkanik Bromo.

Siswanto menjelaskan, setelah bertemu pimpinan daerah dari Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Pasuruan, dan Malang, bahwa warga yang menganggur itu dari sektor pertanian, peternakan, objek wisata, sopir, dan sebagainya.

"Jumlah warga secara pasti masih dikalkukasi dan dianalisis oleh masing-masing daerah, namun bantuan yang diberikan berupa 15 kilogram beras perminggu, gula, dan lauk pauk," katanya.

Bagi warga di luar 3 kecamatan di Kabupaten Probolinggo, katanya, akan dibantu pengerukan jalan untuk memfungsikan jalur tarnsportasi dan saluran air yang tersumbat aliran debu vulkanik.

"Kalau anggaran yang dibutuhkan masih kurang, kami sudah menyiapkan anggaran tahun 2011 sebagai dukungan. Yang jelas, kondisi tanggap darurat itu fokus kepada manusia," katanya.

Berdasarkan pantauan SIGAP, sejak terjadinya semburan abu vulkanik Gunung Bromo, aktivitas perekonomian seperti industri pariwisata di sekitar wilayah Bromo mengalami penurunan.

Selain itu, Abu vulkanik Gunung Bromo merusak infrastruktur mulai dari kawasan Puncak Penanjakan di wilayah Kabupaten Pasuruan, hingga kawasan Cemorolawang, Ngadisari, Probolinggo.

Puncak Penanjakan di Kabupaten Pasuruan yang merupakan kawasan tujuan wisata di Gunung Bromo tertutup abu vulkanik antara 10-15 cm, sehingga banyak ranting pohon patah, dan sebagian ada juga batang pohon yang tumbang.

Listrik di Puncak Penanjakan di Kabupaten Pasuruan dan sejumlah desa di wilayah Sukapura, Probolinggo, sempat padam. Jalan masih banyak yang tertutup debu vulkanik dan ranting-ranting pohon yang patah.

Jalan yang tertutup debu menjadi licin untuk dilalui, terlebih jika turun hujan. Kondisi serupa juga terjadi di Cemorolawang, Ngadisari, Probolinggo.

Sementara itu, laut pasir (kaldera) Gunung Bromo kembali dilarang untuk dilalui, sehingga praktis kegiatan industri pariwisata Gunung Bromo lewat Probolinggo lumpuh. (laporan ari prahasta/ant)

 

Arsip Berita