Minggu, 27 Mei 2012
Sukadana : Petani Kesulitan Keringkan Gabah
Senin, 27 Desember 2010 04:08
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 27/12 (SIGAP) - Sebagian petani di Kabupaten Lampung Timur kesulitan mengeringkan gabah, karena curah hujan yang cukup tinggi di daerah tersebut.

"Banyak petani yang ingin mengeringkan gabah agar bisa cepat digiling, namun terkendala hujan yang terus-menerus," kata seorang petani, Sudrajat (38), di Kecamatan Ramanutara, Lampung Timur, Senin (27/12).

Menurutnya, aktivitas pengeringan gabah dilakukan para petani saat ini karena stok beras yang dimiliki semakin menipis, sehingga petani ingin menjadikan gabah tersebut sebagai beras.

"Sebelum kami giling ke pabrik, maka kami keringkan terlebih dahulu agar hasil berasnya bermutu baik," ujarnya.

Dirinya menjelaskan, meskipun stok gabah yang dimiliki petani sebelumnya sudah dikeringkan pascapanen, namun saat itu belum maksimal, maka perlu dikeringkan lebih lanjut.

"Biasanya setelah panen, memang kami mengeringkan gabah sebelum disimpan, namun lama pengeringan hanya berkisar satu hingga dua hari saja, sebab nantinya akan dikeringkan kembali," jelasnya.

Sudrajat menjelaskan, akibat sulitnya proses pengeringan saat ini, maka sebagian petani menunda untuk menjemur gabah dan menunggu hingga kondisinya baik untuk mengeringkan gabah tersebut.

"Rata-rata petani melakukan proses pengeringan secara tradisional, yakni mengeringkan di pelataran rumah saat terik matahari yang panas," katanya.

Sudrajat menambahkan, persediaan gabah yang dimiliki setiap petani di daerahnya memang masih mencukupi, namun saat ini petani mengeluhkan sulitnya pengeringan gabah.

"Kami berharap adanya bantuan dari pemerintah, yakni alat yang bisa mengeringkan gabah sehingga tidak terlalu bergantung dengan cuaca," harapnya.

Hal senada disampaikan petani lain, Supangat (46), di Kecamatan Batanghari, yang mengatakan kendala yang dihadapi para petani terutama pascapanen yakni proses pengeringan.

Menurutnya, para petani biasanya mengeringkan gabah secara tradisional, yakni mengeringkannya dengan bantuan sinar matahari, akibatnya di saat curah hujan tinggi maka petani tidak bisa meningkatkan mutu gabah yang ada.

"Mutu gabah biasanya dipengaruhi masa pengeringan, sebab di saat proses penggilingan memerlukan gabah yang kering agar beras yang dihasilkan tidak mudah patah," katanya.

Supangat menambahkan, berdasarkan pantauan ke sejumlah pabrik di kecamatan kami, jarang menemukan gabah dengan kualitas super, sebab saat pengeringannya kurang maksimal.

"Berdasarkan pengalaman saya ke pabrik-pabrik, sulit menemukan gabah dengan kualitas gabah yang super, sehingga wajar jika pedagang membeli gabah ke petani dengan harga rendah," ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan data terakhir Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distan-TPH) Lampung Timur menunjukkan, produksi gabah tahun 2010 mencapai 194.886 ton, sedangkan tahun 2009 produksinya sebesar 192.765 ton, atau mengalami peningkatan 2.121 ton.

Selain itu, daerah yang memasuki panen musim ini meliputi delapan kecamatan, diantaranya Batanghari, Sekampung, Purbolinggo, Waybungur, Bumiagung, Sekampungudik, Wayjepara, dan Labuhanratu.

Menurut catatan SIGAP, petani Lampung Timur perlu belajar dari inovasi pengering gabah dari bahan fibreglass KUD Sumber Rejo Sukorejo,  Pasuruan Provinsi Jawa Timur.

Mesin pengering ini, untuk investasi yang dibutuhkan jauh lebih murah bila dibanding dengan menggunakan dryer.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan tingkat kepanasan lantai jemur ini, temperaturnya mencapai 65 derajat celcius dan kadar air tinggal sekitar 14 persen.

Alat ini ditemukan oleh  H.Moch. Roeslan, ketua KUD Sumber Rejo Sukorejo Kab.Pasuruan.

Menurut  Roeslan, seperti dilansir koperasiku.com, penjemuran gabah kering sawah di lantai jemur yang tanpa atap fibreglass  biasanya memakan waktu dua–tiga hari untuk mencapai kadar air 14%, tetapi sekarang dalam waktu kurang dari 8 jam, gabah sudah kering.

“Lantai jemur beratap fibre ini ternyata mampu menyimpan panas cukup lama. Disamping itu, ketika ada musim penghujan juga bisa digunakan menyimpan gabah untuk sementara waktu,” ujar  Abah Roeslan.

Dampak dari lantai jemur atap fibreglass ini adalah pengurangan tenaga kerja. Di KUD Sumber Rejo, sebelumnya mempekerjakan antara 20-25 orang, sekarang tinggal 5 orang.

KUD sekarang telah membangun lantai jemur seluas 3.000 meter persegi dengan nilai investasi Rp.200 juta, mampu menjemur gabah kering sawah antara 10-20 ton/hari.

Abah lebih lanjut mengatakan, banyak keuntungan menggunakan lantai jemur beratap fibreglass, yaitu biaya jauh lebih murah bila dibanding dengan investasi dryer, beras yang dihasilkan ternyata juga jauh lebih berkualitas.

Mekanisme KUR sesungguhnya bisa dijadikan solusi bagi petani di Lampung Timur untuk menggunakan inovasi di KUD Sumber Rejo. (Laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita