Minggu, 27 Mei 2012
Dinkes: Pengdidap HIV/AIDS Singkawang Urutan Kedua Di Kalbar
Senin, 27 Desember 2010 03:34
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 27/12 (SIGAP) - Kepala Dinas Kesehatan Kota Singkawang, Nurmansyah, Senin (27/12) menyatakan, pengidap Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrome di kota tersebut berada pada peringkat kedua di Kalimantan Barat.

Nurmanysah mengatakan, saat ini pengidap HIV/AIDS yang terdata di Kota Singkawang sebanyak 483 orang.

Lebih lanjut Nurmansyah mengatakan, kasus tersebut sebagian besar ditemukan pada anak-anak muda. Penularan virus atau penyakit itu sangat rentan pada seks yang tidak aman, penggunaan jarum suntik yang tidak steril, serta air susu ibu.

Dirinya meminta masyarakat setempat untuk berhati-hati dan waspada pada HIV/AIDS.

Nurmansyah menjelaskan cara pencegahan terhadap penularan HIV/AIDS, yakni pertama melakukan seks yang aman. Kedua mengggunakan jarum suntik steril. Dan Ketiga menggunakan kondom saat melakukan hubungan seks.

"Itu bertujuan untuk mencegah penularan HIV/AIDS," katanya.

Selain itu, Nurmansyah juga mengingatkan kepada anak-anak muda untuk menjauhi pergaulan bebas. Alasannya peredaran narkoba sangat rentan pada penularan HIV/AIDS, seperti penggunaan jarum suntik yang tidak steril atau secara bergantian.

Kepala Dinas Kesehatan itu juga berharap masyarakat di Kota Singkawang dapat meningkatkan kesejahteraan dan dijauhi dari penularan HIV/AIDS.

Menurutnya, HIV/AIDS merupakan penyakit yang sama dengan penyakit yang lainnya. Dalam arti tidak ada bedanya. Namun yang menjadi permasalahan pengidap HIV/AIDS sering ditemukan kepada laki-laki yang melakukan hubungan seksual bebas baik dengan pasangan sejenis maupun dengan berbeda.

Sebagian besar orang yang terinfeksi HIV tidak menyadarinya karena tidak ada gejala yang tampak segera setelah terjadi infeksi awal. Beberapa orang mengalami gangguan kelenjar yang menimbulkan efek seperti deman (disertai panas tinggi, gatal-gatal, nyeri sendi, dan pembengkakan pada limpa), yang dapat terjadi pada saat seroconversion. Seroconversion adalah pembentukan antibodi akibat HIV yang biasanya terjadi antara enam minggu dan tiga bulan setelah terjadinya infeksi.

Kendatipun infeksi HIV tidak disertai gejala awal, seseorang yang terinfeksi HIV sangat mudah menularkan virus tersebut kepada orang lain. Satu-satunya cara untuk menentukan apakah HIV ada di dalam tubuh seseorang adalah melalui tes HIV.

Infeksi HIV menyebabkan penurunan dan melemahnya sistem kekebalan tubuh. Hal ini menyebabkan tubuh rentan terhadap infeksi penyakit dan dapat menyebabkan berkembangnya AIDS.

Komisi Penanggulangan AIDS menyebutkan, sebagian besar orang yang terinfeksi HIV tidak menyadarinya. Pasalnya, tidak ada gejala yang tampak segera setelah terjadi infeksi awal. Beberapa orang mengalami gangguan kelenjar yang menimbulkan efek seperti deman, disertai panas tinggi, gatal-gatal, nyeri sendi, dan pembengkakan pada limpa, yang dapat terjadi pada saat seroconversion.

Sementara itu, seroconversion adalah pembentukan antibodi akibat HIV yang biasanya terjadi antara enam minggu dan tiga bulan setelah terjadinya infeksi.

Kendatipun infeksi HIV tidak disertai gejala awal, seseorang yang terinfeksi HIV sangat mudah menularkan virus tersebut kepada orang lain. Satu-satunya cara untuk menentukan apakah HIV ada di dalam tubuh seseorang adalah melalui tes HIV.

Infeksi HIV menyebabkan penurunan dan melemahnya sistem kekebalan tubuh. Hal ini menyebabkan tubuh rentan terhadap infeksi penyakit dan dapat menyebabkan berkembangnya AIDS. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita