Minggu, 27 Mei 2012
Subang: Dinkes Intensifkan Sosialisasikan Bahaya HIV/AIDS
Jumat, 24 Desember 2010 10:41
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 24/12 (SIGAP) - Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, Jawa Barat, mengintensifkan sosialisasi bahaya penyebaran HIV/AIDS mengingat bertambahnya daerah sebaran penyakit tersebut di Subang. Demikian dikatakan Koordinator Penanggulangan HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, Suwata, Jumat (24/12) di Subang.

Salah satu upaya penanggulangan yang dilakukan, kata Suwata, diantaranya adalah sosialisasi berkala bahaya penyebaran HIV/AIDS serta adanya pemeriksaan HIV terhadap golongan berisiko tinggi.

"Kami telah merencanakan akan melakukan sosialisasi serta pemeriksaan HIV terhadap golongan risiko tinggi secara intensif pada tahun 2011 mendatang sebagai bentuk deteksi dini adanya perluasan daerah sebaran penularan HIV/AIDS di Kabupaten Subang," jelasnya.

Dirinya juga menjelaskan, saat ini daerah sebaran terkonsentrasi penularan HIV/AIDS di Kabupaten Subang bertambah menjadi sebanyak 13 titik sebaran dari semula 6 titik sebaran penularan HIV/AIDS.

"Dari sebanyak 13 titik sebaran terkonsentrasi penularan HIV/AIDS di Kabupaten Subang diantaranya adalah Kecamatan Patokbeusi, Blanakan, Ciasem, Pamanukan serta Cipunagara Subang," lanjutnya.

Hingga saat ini daerah sebaran terkonsentrasi penularan HIV/AIDS di Kabupaten Subang, katanya, masih didominasi oleh daerah di kawasan pantura Subang.

"Di kawasan pantura Subang masih banyak memiliki lokalisasi sehingga penularan HIV/AIDS di kawasan pantura Subang terbilang lebih signifikan dibandingkan dengan daerah lainnya," tutur Suwata.

Selain itu, menurut Suwata, pihaknya mencatat penularan HIV/AIDS di Subang masih didominasi oleh golongan wanita pekerja seks serta lelaki penikmat seks.

"Dengan masih ditemukannya lokalisasi di kawasan pantura Subang, maka kami nyatakan bahwa kawasan pantura Subang adalah kawasan merah atau kawasan rawan penularan HIV/AIDS melalui wanita pekerja seks maupun lelaki penikmat seks," tegas dia.

Menurut Suwata, hingga bulan Oktober lalu jumlah penderita HIV/AIDS di Subang yang meninggal dunia sebanyak 69 orang.

Komisi Penanggulangan AIDS seperti dikutip dari aidsindonesia.or.id menyebutkan, sebagian besar orang yang terkena HIV, bila tidak mendapat pengobatan, akan menunjukkan tanda-tanda AIDS dalam waktu 8-10 tahun. AIDS diidentifikasi berdasarkan beberapa infeksi tertentu, yang dikelompokkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) sebagai berikut, Tahap I, penyakit HIV tidak menunjukkan gejala apapun dan tidak dikategorikan sebagai AIDS. Tahap II, meliputi manifestasi mucocutaneous minor dan infeksi-infeksi saluran pernafasan bagian atas yang tak sembuh- sembuh. Tahap III, meliputi diare kronis yang tidak jelas penyebabnya yang berlangsung lebih dari satu bulan, infeksi bakteri yang parah, dan TBC paru-paru, atau Tahap IV, meliputi Toksoplasmosis pada otak, Kandidiasis pada saluran tenggorokan (oesophagus), saluran pernafasan (trachea), batang saluran paru-paru (bronchi) atau paru-paru dan Sarkoma Kaposi.

Komisi Penanggulangan AIDS mencatat, lamanya HIV bisa berkembang menjadi AIDS dapat bervariasi dari satu individu dengan individu yang lain. Dengan gaya hidup sehat, jarak waktu antara infeksi HIV dan menjadi sakit karena AIDS dapat berkisar antara 10-15 tahun, kadang-kadang bahkan lebih lama. Terapi antiretroviral dapat memperlambat perkembangan AIDS dengan menurunkan jumlah virus (viral load) dalam tubuh yang terinfeksi. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita