Minggu, 27 Mei 2012
Distanak: Produksi Jagung Sulbar Capai 62.403 Ton
Jumat, 24 Desember 2010 03:06
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 23/12 (SIGAP) - Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), Ir.H.Muhammad Abduh di Mamuju, Kamis (23/12) menegaskan, produksi jagung daerah itu pada 2010 mencapai 62.403 ton.

"Produksi jagung di tahun 2010 ini lebih besar dibandingkan hasil produksi di tahun 2009 lalu yang hanya mencapai sekitar 58.321 ton, disebabkan perluasan areal tanam serta perawatan yang lebih baik" katanya.

Menurutnya, peningkatan produksi jagung di Sulbar ini seiring bertambahnya luas lahan pertanaman komoditas sekitar 12.396 hektare di tahun 2010.

Dirinya menjelaskan, luas lahan pertanaman jagung di tahun 2009 11.694 hektare dengan capaian produksi sebesar 58.321 ton. Sedangkan tahun 2010 meningkat sebesar 4.802 ton.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, dengan meningkatnya produksi tanaman jagung ini semakin memacu para petani untuk semakin bersemangat membudidayakan tanaman ini.

SepertDikatakannya, hasil komoditi tanaman jagung selama ini cukup membantu peningkatan ekonomi bagi petani yang ada di lima kabupaten di Sulbar, Karenanya, Distanak selaku leading sektor yang membidani masalah pertanian akan terus memprioritaskan program-program yang pro rakyat dalam mencapai tujuan yakni mensejahterakan masyarakat petani yang ada di wilayah ini.

"Petani harus diberikan perhatian lebih dalam rangka mendorong peningkatan produksi mereka. Caranya, pemerintah harus pro dalam memberikan program-program yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan petani seperti pemberian bantuan pupuk maupun benih unggulan," katanya.

Muhammad Abduh menjelaskan, dari 1,2 juta jiwa penduduk Sulbar sekitar 60% menggantungkan hidupnya sebagai petani dan sebahagian adalah pegawai negara, pegawai swasta maupun pelaku usaha atau wiraswasta.

Dirinya menerangkan, meningkatnya produksi jagung saat ini terutama terjadi pada musim palawija yang berlangsung cukup lama yakni berkisar Mei sampai Oktober 2010 ini.

"Pasca panen padi bulan April lalu, sebagian petani di Sulbar memang menanam padi musim gadu, dan melanjutkan dengan menanam jenis palawija saat bulan Mei hingga Oktober atau lima bulan lebih," ujarnya.

Dirinya mengatakan, meski beberapa petani di daerah ada yang mengalami gagal panen akibat diserang hama, namun secara umum tidak mempengaruhi berkurangnya produksi jagung di tahun ini karena diimbangi dengan dilakukan penanaman susulan tanama jagung di beberapa daerah yang menjadi sentra penanaman jagung di Sulbar.

"Pengembangan tanaman jagung di Sulbar cukup potensial karena memiliki luas areal yang cukup. Hanya, saja pemerintah harus mencarikan solusi agar pemasaran jagung di daerah semakin jelas," pungkasnya.
Berdasarkan catatan SIGAP, jagung merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat.

Sementara itu, penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari bulir), dibuat tepung (dari bulir, dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung bulir dan tepung tongkolnya).

Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita