Minggu, 27 Mei 2012
Presiden Hadiri Peringatan Hari Ibu
Rabu, 22 Desember 2010 06:04
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 22/12 (SIGAP) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu (22/12) menghadiri peringatan hari ibu ke-82 tahun 2010 di Sasono Langen Budoyo Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

Presiden didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono menghadiri acara yang bertemakan kesetaraan perempuan dan laki-laki untuk membangun karakter bangsa dalam mewujudkan masyarakat yang sehat dan bermartabat.

Seperti diketahui, peringatan hari ibu merupakan momentum setiap tahun untuk mengevaluasi dan mengapresiasi para pemangku kepentingan dalam melaksanakan berbagai program pembangunan yang ditujukan untuk mewujudkan kesetaraan gender dan peningkatan kualitas hidup perempuan.

Pada peringatan itu juga diberikan penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya kepada kepala daerah dan kementerian/lembaga yang telah berhasil melaksanakan strategi pengarusutamaan gender di masing-masing instansi.

Ikrar para pejuang perempuan pada kongres perempuan Indonesia 22 Desember 1928 di Yogyakarta merupakan tonggak sejarah diperingatinya hari ibu berdasarkan Keppres Nomor 316 tahun 1959.

Hadir dalam peringatan itu Wapres Boediono dan istri Wapres Herawati Boediono, dan sejumlah menteri antara lain Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Ameliasari, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dan pejabat lainnya.

Sementara itu, Koordinator Jaringan Peduli Perempuan dan Anak (JPPA) Jawa Tengah, Agnes Widanti S, menilai peringatan Hari Ibu di Indonesia berbeda dengan "Mother`s Day" di Eropa.

"Peringatan Hari Ibu di Indonesia berkaitan erat dengan perjuangan kaum perempuan sebagai ibu," katanya di Semarang, Selasa, menanggapi Hari Ibu yang diperingati di Indonesia setiap 22 Desember.

Menurutnya, perjuangan kaum perempuan sebagai ibu sangat besar, termasuk dalam upaya penghapusan tindakan diskriminasi dan kekerasan yang dialami oleh kaum perempuan di Indonesia.

Kalau di Eropa, katanya, "Mother`s Day" biasanya diperingati dengan memberi bunga kepada ibu, kemudian memberi libur kepada ibu terkait tugas rumah tangganya dalam satu hari itu.

"Tetapi di Indonesia berbeda, tidak cukup hanya dengan memberi bunga dan memberi `libur` satu hari. Lebih jauh, Hari Ibu perlu direfleksikan dengan nasib kaum perempuan selama ini," katanya. (laporan rusman/ant)


 

Arsip Berita