Minggu, 27 Mei 2012
Rektor UGM: Merapi Beri Inspirasi Penelitian
Selasa, 21 Desember 2010 09:30
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 21/12 (SIGAP) - Aktivitas Gunung Merapi dan dampak yang ditimbulkannya dapat memberikan inspirasi bagi orang lain untuk menghasilkan sebuah penelitian dan pengetahuan baru, kata Rektor Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Sudjarwadi.

"Hal itu dibuktikan dengan adanya 15 hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) terkait bencana Merapi," katanya pada lokakarya tanggap bencana Merapi di Yogyakarta, Selasa (21/12).

Dirinya mengatakan, aktivitas Merapi dan dampak yang ditimbulkannya merupakan "laboratorium alam" yang bisa dijadikan sebagai sumber pengetahuan bagi masyarakat dunia.

Dengan demikian, gagasan dan pengalaman dalam membantu menangani dampak bencana Merapi bisa dirangkum sebagai modal dasar untuk membuat perencanaan dan implementasi program yang baik di masa datang.

"Dengan pengalaman dan gagasan itu kita bisa melakukan penanganan secara cepat jika sewaktu-waktu terjadi letusan," katanya.

Menurutnya, UGM merupakan salah satu partisipan yang ikut membantu menangani bencana Merapi. Namun demikian, UGM tetap mengutamakan kecerdasan kolektif sebagai salah satu fondasi untuk membangun pemahaman bersama.

"Setiap orang punya gagasan dan pengalaman masing-masing, jika semua itu dikomunikasikan dan dikombinasikan, maka akan menghasilkan sebuah pengetahuan," katanya.

Dirinya mengatakan, hikmah yang bisa dipetik pascaerupsi Merapi di antaranya telah meningkatkan semangat bagi warga dan lembaga terkait yang berada di Yogyakarta untuk menciptakan inspirasi tentang pengalaman bersama menangani dampak bencana yang ditimbulkan.

"Pengalaman itu bisa ditularkan kepada masyarakat di dunia," kata Sudjarwadi.

Menurutnya, beberapa hasil penelitian dari UGM tentang penanganan bencana Merapi antara lain kajian sebaran awan panas gunung api tersebut pascaerupsi, zonasi bahaya Merapi melalui pendekatan geomorfologi tanah, kajian kerusakan infrastruktur transportasi pascaerupsi.

Selain itu, kajian struktur sosial masyarakat pascaletusan, daya dukung lahan pascaletusan untuk kegiatan agro dan perikanan, kajian tata ruang wilayah berbasis analisis risiko gunung api, dan strategi pembangkitan ekonomi masyarakat pascabencana Merapi.

Penelitian lainnya adalah strategi penanggulangan penyakit terkait dengan kerusakan lingkungan akibat letusan, pemodelan dinamika gunung api Merapi pascaletusan, evaluasi kegiatan tanggap darurat, perencanaan dan pemodelan evakuasi krisis gunung api.

Selanjutnya, strategi penanganan ternak pada saat tanggap darurat, penanganan trauma bencana, identifikasi "job need assesment" masyarakat pengungsi terkena dampak erupsi dan studi kerusakan dusun dampak erupsi sebagai dasar perencanaan perancangan hunian antara dan strategi pelestarian.

Menurut Balai KSDA Yogyakarta, ada hubungan sosial ekonomi antara penduduk lereng merapi dengan Gunung merapi.

Diantaranya, penduduk memanfaatkan hutan negara sebagai sumber rumput untuk pakan ternak dan kayu bakar (akasia dan tanaman yang sakit) sebagai bahan pembuatan arang yang dijual di wilayah mereka. 

Juga perilaku konservasi yang sudah tampak diantara masyarakat, dan dapat dijadikan pendukung pilar-pilar konservasi, seperti Kesepakatan diantara masyarakat, bila ingin mengambil/menebang tanaman, harus menanam dulu dari jenis yang sama minimal 5 pohon. 

Adanya pendapat, bila hutan dihijaukan oleh masyarakat maka warga masyarakat tidak akan kelaparan;  serta pendapat,  bila hutan ditanami palawija (jagung, ketela dll) maka warga masyarakat sekitar kawasan akan mengalami kekurangan makan (tidak akan pernah merasa kenyang).

Adanya keyakinan hubungan spiritual dan supranatural antara Merapi, Kraton Yogya dan Laut Selatan yang didasari atas anggapan Merapi bukan ancaman tapi sebagai sumber kehidupan.

Keadaan tersebut merupakan kearifan lokal, yang akan memberi kontribusi bagi kemajuan pengetahuan. (laporan wa prasetya/ant).

 

Arsip Berita