Minggu, 27 Mei 2012
Yogyakarta: Gempa 5,8 SR Tidak Timbulkan Korban
Selasa, 21 Desember 2010 07:07
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 21/12 (SIGAP) - Gempa bumi 5,8 skala Richter dengan pusat 140 kilometer tenggara Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa pukul 10.59 WIB tidak menimbulkan korban.

"Kami belum mendapat laporan adanya korban baik bangunan maupun jiwa yang diakibatkan oleh gempa dengan kekuatan 5,8 skala Richter tersebut," kata Kepala Kantor Kesatuan Bangsa, Politik, Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) dan Penanggulangan Bencana (PB) Kabupaten Gunung Kidul Kasiyo di Wonosari, Selasa (21/12).

Kasiyo mengatakan, pihaknya terus memantau informasi terkait peristiwa gempa tersebut melalui jalur frekuensi radio dari pos Tim Reaksi Cepat (TRC) Kesbangpolinmas dan PB yang terhubung dengan koordinator SAR laut maupun darat.

"Kami mengimbau masyarakat tetap waspada terkait ancaman bencana, meskipun peristiwa gempa jarang terjadi namun kalau ada yang merasakan guncangan gempa sebaiknya segera keluar rumah untuk menyelamatkan diri," katanya.

Sementara itu, Koordinator Wilayah I SAR Laut yang bermarkas di Pantai Sadeng, Kecamatan Rongkop, Subowo mengatakan tidak ada laporan tentang kerugian material yang diderita masyarakat, khususnya nelayan di sepanjang laut selatan Gunung Kidul.

"Nelayan dan masyarakat yang sedang melakukan aktivitas di sekitar pantai sempat panik dan berlarian menjadi dari bibir pantai karena kaget sewaktu terjadi gempa, tapi saat ini mereka sudah beraktivitas normal seperti sebelum ada gempa dan tidak ada informasi korban baik bangunan maupun jiwa," katanya.

Subowo memastikan gelombang air laut pantai selatan Gunung Kidul tidak meningkat pascagempa.

"Kebetulan banyak nelayan sedang libur karena cuaca yang tidak mendukung untuk mencari ikan sehingga kemungkinan kecil terjadi kecelakaan laut. Kami juga menginformasikan gempa tersebut kepada nelayan yang berada di laut melalui radio," katanya.

Agustus lalu, Staf Khusus Presiden Bidang Bencana Dan Bantuan Sosial Andi Arief  menjelaskan pentingnya peta mikrozonasi gempa yang akan menjadi panduan untuk mitigasi dan antisipasi gempa. 

"Peta seismic hazard 2010 yang disusun 9 ahli gempa Indonesia menunjukkan Jakarta mengalami peningkatan percepatan batuan dasar. Beberapa daerah lain seperti Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang juga mengalami hal serupa. Jika pemerintah daerah mau memulai riset mikrozonasi gempa, potensi gempa di tiap-tiap kota itu akan dapat dipetakan dengan lebih baik," kata Andi Arief, Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam, Kepada detik. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita