Minggu, 27 Mei 2012
Boyolali: Pemkab Salurkan Logistik Tanggap Darurat
Selasa, 21 Desember 2010 06:35
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 21/12 (SIGAP) - Pemerintah Kabupaten Boyolali, hingga Selasa (21/12) ini terus menyalurkan logistik tanggap darurat untuk warga lereng Merapi, di Kecamatan Selo, hingga batas akhir pada Rabu (22/12).

"Kami masih salurkan bantuan logistik tanggap darurat kepada warga di Lereng Merapi, hingga Rabu (22/12) batas akhirnya," kata Camat Selo, Djiwan Sutopo, di Boyolali, Selasa (21/12).

Menurut Djiwan Sutopo, pihaknya melakukan koordinasi dengan pemerintah desa, dusun, hingga ke tingkat RW maupun RT untuk menyalurkan bantuan logistik tanggap darurat itu.

Di Selo, ada sembilan, yakni Samiran, Jrakah, Klakah, Tlogolele, Suroteleng, Lencoh, Selo Duwur, dan Gebyok.

Menyinggung masalah penyaluran bantuan jatah hidup untuk warga Merapi, kata Djiwan Sutopo, pihaknya belum mendapat informasi dari Pemkab mengenai pembagian Jadup itu.

"Masalah jadup kami belum tahu kapan akan dibagikan. Kami masih menunggu informasi dari Pemkab atau pusat," katanya.

Kepala Dusun II Dusun Sepi, Jrakah, Tumari mengatakan, kalau bantuan tanggap darurat warga setempat, awal bulan sudah menerima berupa beras dan lauk pauk.

Namun, katanya, mengenai bantuan jatah hidup dari pemerintah pusat, warga belum mengetahui kapan akan menyalurkan.

Kepala Desa Jrakah, Tumar mengatakan, warganya sekitar 4.425 jiwa telah menerima bantuan logistik tanggap darurat. Logistik persediaan masih mencukupi kebutuhan warga.

"Kami yang terpenting warga jangan sampai terjadi kelaparan. Mereka sudah melakukan aktivitas di ladang seperti hari hari biasa," kata Tumar.

Masalah pembagian jadah hidup bagi warga Desa Jrakah, kata Djiwan, pihaknya belum mendapat informasi dari pihak kecamatan. Jadup itu, kecamatan akan memberikan sosialisasi mengenai mekanisme.

Namun, pihaknya hingga sekarang belum mendapat kepastian yang jelas kapan akan dibagikan jadup.

Sementara Kepala Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos) Boyolali, Sugiyanto, menjelaskan, pihaknya belum ada petunjuk mengenai pembagian Jadup dari Pemerintah Pusat.

"Kami hingga saat ini mengenai penyaluran Jadup belum jelas. Belum ada petunjuk dari Pusat," katanya.

Menurut Asisten III Bidang Kesra Setda Boyolali Syamsudin, jatah hidup dibagikan kepada warga yang masuk radius lima kilometer Gunung Merapi, dengan perincian jatah untuk enam bulan ke depan.

Warga yang bermukim di radius lima hingga 10 km akan mendapatkan jatah hidup selama empat bulan, sedangkan radius 10 hingga 20 km akan mendapat selama tiga bulan ke depan.

Dirinya menjelaskan, jatah hidup setiap jiwa akan mendapatkan sebesar 0,4 kg berat/orang/hari dan uang lauk pauk Rp4.500/orang/hari.

Terkait rekontruksi, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo menjadi prioritas  tahap awal di Kabupaten Boyolali dengan dana lebih dari Rp 300 juta.

Dana tersebut akan digunakan untuk perbaikan akses berupa penambalan jalan, perbaikan drainase yang hancur dan pemenuhan kebutuhan air bersih warga di desa yang masuk dalam radius 5 km dari puncak Merapi itu.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pertambangan Perhubungan dan Kebersihan (DPUPPK) Kabupaten Boyolali, Ir Haryono, seperti dilansir boyolalikab.go.id mengatakan, terdapat permasalah dengan keterbatasan waktu yang tersedia.

Sesuai aturan, rekonstruksi yang menggunakan anggaran APBD 2010 tersebut harus sudah rampung pada 20 Desember mendatang.

Dengan ketebalan debu yang masih tinggi, DPUPPK mungkin baru bisa melakukan penambalan-penambalan jalan yang rusak, perbaikan drainasi yang jebol dan perbaikan saluran air di Tlogolele.

Sedang upaya rekonstruksi dan rehabilitasi untuk wilayah lainnya belum bisa dipastikan waktunya menunggu bantuan dari BNPB turun.(laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita