Minggu, 27 Mei 2012
Pengawasan Terhadap Aktivitas Gunung Gede Ditingkatkan
Sabtu, 18 Desember 2010 19:02
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 18/11 (SIGAP) - Kepala Balai besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) Agus Wahyudi, Kamis (16/12) mengatakan, TNGGP meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas Gunung Gede yang berlokasi di tiga kabupaten yakni Bogor, Sukabumi dan Cianjur.

Menurutnya, peningkatan pengawasan ini disebabkan aktivitas Gunung Gede yang selalu terjadi erupsi selama 50 tahun terakhir.

Agus menjelaskan, dari hasil penelitian pihak vulkanologi seharusnya Gunung Gede mengalami erupsi pada 2007 karena terakhir terjadi erupsi pada 1957. "Untuk itu kami meningkatkan pengawasan terhadap gunung ini," kata Agus kepada ANTARA.

Selain itu, kata Agus, melihat tingkah laku hewan yang turun gunung dikhawatirkan terjadi letusan mendadak pada gunung yang mempunyai tinggi 2.958 meter di atas permukaan laut itu. "Ini berkaca dari pengalaman meletusnya Gunung Sinabung di Sumatera Utara yang secara mendadak dengan tidak ada tanda-tanda sebelumnya," jelas Agus.

Dirinya menambahkan, pihaknya juga mengimbau para petugas untuk terus melakukan pemantauan terutama terhadap perilaku dan pergerakan satwa. Salah satu tanda gunung akan meletus adalah banyaknya satwa yang turun gunung karena merasa kepanasan akibat suhu udara meningkat.

Selain meningkatkan kewaspadaan, pihaknya juga membuat rencana induk mitigasi bencana. Hal ini dimaksudkan bila Gunung Gede meletus pihaknya dan semua yang terkait dapat melakukan tanggap darurat dengan cepat.

Namun, pihaknya berharap Gunung Gede tidak mengalami erupsi dan dari pantauan aktivitas vulkanologi, Gunung Gede masih normal dan tidak menunjukkan peningkatan aktivitas.

"Tetapi kami akan terus melakukan pengawasan sebagai bentuk waspada, khawatir ada peningkatan aktivitas," tandas Agus.

Berdasarkan catatan SIGAP, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) mempunyai peranan yang penting dalam sejarah konservasi di Indonesia. TNGGP menjadi kawasan wisata dan rekreasi, saat akhir minggu (Sabtu dan Minggu) dan hari libur, kawasan wisata Cibodas dan Kebun Raya Cibodas akan diramaikan oleh pengunjung yang membeli suvenir dan oleh-oleh berupa sayuran dan buah-buah segar dengan harga terjangkau dari pasar wisata di Cibodas. 

Kawasan ini ditetapkan sebagai taman nasional pada tahun 1980. Dengan luas 22.851,03 hektare, kawasan Taman Nasional ini ditutupi oleh hutan hujan tropis pegunungan, hanya berjarak 2 jam (100 km) dari Jakarta. Di dalam kawasan hutan TNGGP, dapat ditemukan “si pohon raksasa” Rasamala, “si pemburu serangga” atau kantong semar (Nephentes spp); berjenis-jenis anggrek hutan, dan bahkan ada beberapa jenis tumbuhan yang belum dikenal namanya secara ilmiah, seperti jamur yang bercahaya.

Disamping keunikan tumbuhannya, kawasan TNGGP juga merupakan habitat dari berbagai jenis satwa liar, seperti kepik raksasa, sejenis kumbang, lebih dari 100 jenis mamalia seperti Kijang, Pelanduk, Anjing hutan, Macan tutul, Sigung, dll, serta 250 jenis burung. Kawasan ini juga merupakan habitat Owa Jawa, Surili dan Lutung dan Elang Jawa yang populasinya hampir mendekati punah. (laporan rusman/ant)



 

Arsip Berita